Laman

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Minggu, 11 November 2012

Persaingan Barat Mengobral Senjata ke Timur Tengah


 
Kontrak jual-beli senjata antara Arab Saudi dan Amerika Serikat seakan tidak ada akhirnya dan bahkan terjadi lonjakan dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengkonfirmasikan penandatanganan kontrak penjualan pesawat militer dan perlengkapannya kepada Arab Saudi.
 
Pentagon menyatakan, Amerika Serikat berencana menjual 20 unit pesawat kargo militer dan lima pesawat pengisian bahan bakar senilai 6,7 milyar USD ke Arab Saudi. Kontrak itu termasuk biaya pelatihan, dukungan logistik, suku cadang dan peralatan untuk pesawat tersebut.
 
Termasuk dalam paket kontrak tersebut adalah pesawat  C-130J-30 Super  Hercules  dan KC-130J—jenis pesawat pengisi bahan bakar—yang  akan menggantikan armada udara Arab Saudi yang mulai menua.
 
Penjualan pesawat tersebut akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan membantu meningkatkan keamanan sebuah negara sahabat, menjadi kekuatan penting di Timur Tengah.
 
Riyadh meningkatkan belanja militernya secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Pada 2010, Arab Saudi juga telah menandatangani kontrak pembelian senjata dari Amerika Serikat senilai 60 milyar USD dan menjadi pembeli terbesar senjata di antara negara-negara berkembang pada tahun 2011.
 
Di antara negara-negara Arab di bagian selatan Teluk Persia, Arab Saudi merupakan konsumen senjata Amerika Serikat. Saat ini, milyaran dolar telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk menimbun persenjataan yang selain tidak dapat menggunakannya, juga tidak penting untuk Saudi. Pertanyaannya adalah mengapa Arab Saudi menumpuk persenjataan dari AS?
 
Banyak pemerhati yang berpendapat bahwa pembelian senjata itu selain untuk menyampaikan pesan negatif kepada musuh bebuyutan Amerika Serikat di kawasan yaitu Iran, juga dalam rangka menyelamatkan perekonomian Negeri Paman Sam yang sedang sekarat.
 
Sulit untuk mengingkari alasan kedua yang dikemukakan para analis soal penjualan senjata ke Arab Saudi itu. Di saat AS dan semua negara Eropa sedang menghadapi gelombang krisis ekonomi, terjadi persaingan serius antara AS, Inggris dan Perancis untuk menjajakan persenjataan mereka ke negara-negara Timur Tengah kaya minyak.
 
Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, David Cameron dalam kunjungannya ke kawasan menandatangani perjanjian militer dan menjajakan pesawat Typhoon kepada negara-negara regional.  Angka yang ditawarkan Cameron juga sangat mengejutkan yaitu 100 unit jet tempur Typhoon.
 
Adapun alasan pertama yang dikemukakan pengamat juga sangat penting. Iran sebagai penghalang utama politik imperialisme Barat di kawasan, diposisikan Amerika Serikat dan Eropa sebagai potensi ancaman terbesar bagi negara-negara Arab. Tanpa menebar klaim-klaim infaktual tentang ancaman dari Iran, Barat jelas tidak akan sukses mengobral senjatanya di Timur Tengah.  
 
Republik Islam Iran yang telah menghadapi sanksi dari Barat sejak kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1978, dalam beberapa tahun terakhir mencapai berbagai terobosan dan perkembangan di bidang militer. Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri, Iran berhasil mandiri dalam memproduksi perangkat keras dan lunak militer. Meski demikian Republik Islam berulangkali menyatakan bahwa kekuatan militernya bukan ancaman untuk negara manapun mengingat doktrin militer Iran berlandaskan pada prinsip pertahanan.
 
Apakah para penguasa Arab di Timur Tengah dan Teluk Persia tidak menyadari fakta ini bahwa mereka tengah dijadikan boneka kepentingan ilegal Barat dan Amerika Serikat?


Sumber: Irib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMEN POSITIF "OK"