Laman

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Sabtu, 15 September 2012

AF admits F-22 mistakes to Congress

 

Air Force leaders admitted to Congress Thursday the service was wrong not to immediately install a backup oxygen system and is only now getting around to making fixes to the F-22’s oxygen schedule recommended in 2005.

The Air Force has spent the past two years trying to determine why their F-22 pilots suffer hypoxia-like symptoms in flight with many reporting feeling light-headed, weak and nauseous. Service officials have repeatedly grounded the F-22 fleet as the fifth generation fighter still flies under altitude and distance restrictions because of fears for pilots’ safety.

Air Force Maj. Gen. Charlie Lyon, Air Combat Command’s director of operations, Clinton Cragg, principal engineer at NASA’s Engineering and Safety Center, and retired Air Force Gen. Gregory Martin, head of Air Force Scientific Advisory Board study on the F-22’s problems, each testified before Congress on the steps the Air Force has taken to make the F-22 safer. Cragg joined the hearing because NASA, along with the Navy and Marine Corps, has aided the Air Force in its research.

Air Force leaders had declared that they have identified a the culprits causing the problems for pilots to include the breathing regulator/anti-g (BRAG) valve on the Combat Edge upper pressure garment. The Air Force is replacing the valve, installing a new back-up oxygen system and changing the oxygen schedule for the F-22’s onboard oxygen generation system (OBOGS).

Engineers and scientists had recommended the Air Force change the oxygen schedule for the OBOGS in 2005. The Air Force chose not to. The changes being made now are more comprehensive, Lyon said.
Martin also told Congress the Air Force should have installed a back up oxygen system. Original designs for the F-22 included the back up system, but they were scrapped in order to save weight.

“In retrospect, that was not an appropriate decision,” Martin said.

The Air Force expects to have the first back up oxygen systems installed by January and finish the install to the rest of the fleet by 2014.

At the beginning of the Air Force’s investigation into the F-22, officials suspected the breathing problems were caused by toxins getting into the cockpit. Cragg said his NASA scientists agreed with the Air Force’s conclusion that this was not the case.

Martin made a pitch during the hearing to Congress to re-invest in the Air Force’s human systems integration program. He said some of the problems found in the investigation of the F-22’s oxygen system could have been caught earlier. He blamed down sizing of the military in the 1990s.

“Flight medicine, aviation physiology, and research and development atrophied significantly in those years, at the time the airplane was going into a different environment,” Martin said. “All the people that would normally have done the testing and evaluation and all the things we do to learn about those environments were no longer in the military, no longer in our civilian workforce.”


Sumber:Defensetech

PENGAMAT: Selat Sunda dalam Konflik Global dari Perspektif Geopolitik (2)




Antara Gulliver dan "Kekaisaran Militer"

Beberapa dokumen Global Future Institute (GFI) Jakarta mengungkapkan bahwa saat ini tengah berlangsung pergeseran situasi global (geopolitical shift) dari kawasan Heartland (Timur Tengah/Asia Tengah) menuju Laut Cina Selatan. Adapun indikator dan garis besar perpindahan geopolitik dapat dicermati dari data-data sebagai berikut:

1) Menurut Bo Yaozhi, peneliti dari Universitas Negeri Singapura, AS ingin mengalihkan titik berat militernya ke kawasan Asia Pasifik, menempatkan kekuatan militer di kawasan tersebut dan menebar jaringan yang lebih besar;

2) Dalam kunjungan Obama ke Australia terkait penempatan marinir di Darwin, ia berkata bahwa prioritas utama pemerintahan AS adalah Asia Pasifik, mengingat kawasan ini menentukan masa depan di abad XXI. Menteri Pertahanan (Menhan), Leon Panetta pun menebalkan dalam pertemuan puncak Keamanan Asia diselenggarakan International Institute of Strategic Studies di Singapura (Sabtu, 2/6), bahwa AS akan menempatkan 60% armada di Asia Pasifik. Hingga tahun 2020 nanti terus menambah armada dari pembagian yang semula 50-50 antara Pasifik dan Atlantik, akan menjadi 60-40 bagi kedua samudera;

3) Munculnya ketidakpastian situasi di Timur Tengah akibat terkendalanya Military Roadmap AS terutama dalam penaklukkan Syria dan Iran. Military Roadmap tersebut pernah dipaparkan oleh Jenderal Wesley Clark, mantan Komandan NATO di Pentagon (Prof Michel Cossudovsky, www.globalresearch.ca). Kendala tadi selain karena Bashar al Assad terus melawan, juga upaya Barat menerbitkan Resolusi PBB bagi Syria bolak-balik gagal. Ini diungkap oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Hillary Clinton sewaktu kunjungan ke Beijing (Selasa,4/8). Clinton menyatakan kecewa atas tindakan Rusia dan Cina memblokir resolusi Dewan Keamanan, tetapi dijawab oleh Menlu Cina, Yang Jiechi, bahwa sejarah akan menilai posisi Cina terkait krisis Suriah adalah (penanganan) tepat. Apa yang kita pikirkan adalah kepentingan rakyat Suriah dan kawasan; dan juga

4) Cina memperingatkan AS agar tidak terlibat jauh dalam sengketa di perairan Cina Selatan karena teritorial yang diperebutkan adalah sengketa regional antara Cina melawan Taiwan, Cina versus beberapa anggota ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam;

5) Kuatnya pengaruh Cina di Asia Pasifik dan sekitarnya akibat "Kebijakan Panda" serta melebarnya String of Pearls (pola penguasaan perairan dari Laut Cina Selatan-Selat Malaka-Laut Arab-Teluk Persia dll) merupakan strategi Negeri Paman Mao di perairan via pembangunan pelabuhan-pelabuhan di negara-negara pesisir Lautan Hindia dan Laut Cina Selatan. Bahkan India-Cina telah mengaktifkan kembali manuver militer bersama setelah terkendala sejak 2008 akibat friksi diplomatik. Tak ketinggalan adalah perambahan hegemoni melalui Kebijakan Panda (investasi/uang) terhadap negara-negara pulau di Lautan Pasifik yang selama ini dalam orbit dan kendali AS;  

6) Suksesnya penyelenggaraan KTT GNB ke 16 diikuti lebih 100-an negara di Tehran ialah ujud riil kemenangan diplomasi Iran terhadap AS dan sekutunya karena selama ini Barat berupaya menggiring opini agar dunia memusuhi dan mengucilkan Iran;

7) Kunjungan mendadak Hillary Clinton ke beberapa negara peserta dan anggota APEC yang berujung dalam KTT APEC di Vladivostok, selain mencerminkan "kepanikan AS" ---meminjam istilah Hendrajit --- secara tersirat menyimpan urgen agenda di Asia Pasifik. Inti kunjungan ke Indonesia, selain berkomitmen mendukung kepemimpinan Indonesia dalam KTT APEC 2013 di Bali, AS juga "menegur" atas intoleransi terhadap minoritas, dan lain-lain.

Agaknya perubahan geopolitik di atas, dicermati secara menarik oleh Toni Cartalucci, peneliti senior di Central for Research Globalization (CRG), Kanada. Ia membuat analogi bahwa Cina ibarat Gulliver yang terdampar di Pulau Liliput. Ketika terbangun ia mendapati dirinya terjerat tali oleh (kaum liliput) orang-orang kecil di sekeliling.

Menafsir analog Cartalucci, sepertinya Paman Sam hendak menggunakan negara-negara (proxy) di sekeliling Cina yang tergabung pada blok supra-nasional (ASEAN) sebagai front untuk "memaksa" (tie down) supaya mengikuti aturan main dan cara yang sama.  Dalam buku Perang Cina Kuno strategi itu disebut "membunuh dengan pisau pinjaman". Atau kata mBah saya, nabok nyeleh tangan!

Dan tampaknya, tafsiran ini terbukti dengan dukungan serta anjuran Panetta kepada Menhan se-ASEAN agar "bertindak seragam" terkait sengketa di Laut Cina Selatan. Secara tersirat, anjuran Panetta bersifat provokatif sebab tie down dan tindakan seragam bisa dimaknai "silahkan keroyok Cina". Tapi Cartalucci mengingatkan, skenario tersebut tidak akan sukses seperti kisah ‘Perjalanan Gulliver', bahkan mungkin sebaliknya. Artinya justru Cina yang kelak membebaskan dirinya sendiri dari jeratan temali, lalu bangkit dan menginjak-injak bangsa liliput di sekitarnya!

Masih terkait pergeseran geopolitik, Pengamat Pertahanan dan Militer dari UI Connie Rahakundini juga memprakirakan bahwa 8 tahun ke depan, "peperangan" dalam rangka perebutan sumber daya alam (SDA) dan jalur perdagangan beralih ke kawasan ini. Abad XXI, kata Connie telah melahirkan "kekaisaran militer" AS yang ditetapkan Bush Jr pada 14 Januari 2004.

Lebih dari setengah juta tentara formal plus mata-mata yang terselimuti melalui jejaring lembaga donor, teknisi, guru, serta badan usaha sudah tersebar membentuk koloni di negara-negara lain. Bukan hanya di darat, ia juga mendominasi lautan hingga samudera. Paman Sam membangun kekuatan angkatan laut yang hebat dengan mencantumkan nama-nama pahlawan pada kapal induk, seperti: Kitty Hawk, Constellation, Enterprise, John F. Kennedy, Nimitz, Dwight D. Eisenhower, Carl Vinson, Theodore Roosevelt, Abraham Lincoln, George Washington, John C. Stennis, Harry S. Truman, Ronald Reagan dan lainnya. Pangkalan militer AS telah mencapai 1000-an lebih di dunia. Data resmi dari Departement of Defence dalam laporan struktur tahun fiskal 2003 menyebut, Pentagon memiliki 702 pangkalan di 130 negara. Jumlah itu belum termasuk 6.000 pangkalan di wilayahnya sendiri. Luar biasa!

Dalam perspektif hegemoni AS, setiap negara yang berpotensi menjadi pesaing mutlak harus dibendung dan dilemahkan. Dibendung dari luar dilemahkan dari sisi internal. Tampaknya Cina merupakan kompetitor berat mengingat konsumsi minyaknya sudah separuh di pasar internasional. Persaingan keduanya berlangsung ketat terkait penguasaan sumber-sumber minyak di berbagai negara. Dokumen Pentagon sendiri, Project for The New American Century and Its Implications 2002 (PNAC) meramal bahwa persaingan antara AS - Cina meruncing 2017 dan konfrontasi terbuka mungkin tidak bisa dielakkan. Inilah yang bakal terjadi.

Aspek Yuridis dan Geostrategi

Rezim Hukum Laut Internasional, atau United Nation Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982 yang telah diratifikasi dalam UU 17/ 1985 menetapkan skema jalur kapal-kapal di wilayah perairan dalam 3 (tiga) Alur Laut Kepulauan Indonesia (disingkat: ALKI).

ALKI I terdiri atas Selat Sunda yang bagian utara bercabang menuju Singapura dan Laut China Selatan; ALKI II meliputi Selat Lombok menuju Laut Sulawesi; dan  ALKI III sekitar perairan Laut Sawu, Kupang (III A), dan seterusnya hingga sebelah timur Timor Leste (III C)  dan perairan Aru (III D). Itulah fenomena "Pintu Gerbang Memanjang" membelah perairan Indonesia.

Berdasarkan UNCLOS 1982, ALKI menjamin hak perlintasan bagi kapal-kapal asing termasuk armada militer beroperasi secara normal. Fenomena tadi bisa menguntungkan di satu sisi, namun sisi buruknya lebih banyak mengingat saat ini tanpa pengawasan dan pengamanan maksimal. Ia bisa menimbulkan ancaman serta gangguan baik kejahatan, pencemaran lingkungan, penyelundupan, pembajakan, terorisme, trafficking in person, atau ancaman militer dari negara-negara yang melintas, baik dengan kedok pelayaran swasta, berdalih penelitian ilmiah, kerjasama dan latihan militer bersama, dan lain-lain.

Dalam UNCLOS memang membolehkan "penutupan sementara" suatu negara apabila terkait kepentingan nasional dan demi keamanan nasional, namun konsekuensi bagi negara yang bersangkutran harus menyediakan jalur alternatif sebagai pengganti. Secara geopolitik, hal-hal semacam ini sangat dikhawatirkan oleh negara-negara lain. Dengan kata lain, bila kelak Indonesia mampu  mengontrol sendiri choke points-nya, maka kapal-kapal asing yang lalu-lalang di wilayah ALKI tidak bisa bebas melintas atau bertindak sembarangan.

Beberapa retorika pun muncul: Apakah "pelemahan dan pemandulan" terhadap elemen serta kekuatan-kekuatan laut di Indonesia merupakan by design pihak asing karena ketakutan bila republik ini cerdas mensiasati geopolitik dan geostrategi negaranya; bagaimana seandainya Selat Sunda dan Selat Lombok ditutup sebulan guna latihan gabungan TNI-Polri dalam rangka memberantas ilegal fishing, atau memerangi terorisme di perairan?.


Sumber: Irib

Kekuatan Armada Kapal Selam Rusia di Tahun 2012

Angkatan Laut Rusia memiliki armada sekitar 60 kapal selam bertenaga nuklir dan diesel-listrik. Enam puluh kapal selam ini termasuk diantaranya 10 kapal selam strategis bertenaga nuklir, lebih dari 30 kapal selam serang bertenaga nuklir, kapal selam diesel-listrik dan kapal selam misi khusus.
Kapal selam Delta-III dan Delta-IV menjadi tulang punggung armada kapal selam strategis Rusia. Mereka masing-masing membawa 16 rudal balistik dengan hulu ledak ganda, dan fitur elektronik canggih dan pengurangan kebisingan.

Akula

Kapal selam Dmitry Donskoy telah dimodernisasi untuk platform uji rudal "Bulava" baru Rusia. Dua kapal selam lain, Arkhangelsk dan Severstal, tetap menjadi cadangan di sebuah pangkalan angkatan laut di Severodvinsk di utara Rusia. Mereka kemungkinan besar akan dimodernisasi untuk membawa generasi baru rudal jelajah berbasis laut untuk mengimbangi kapal selam AS kelas Ohio.

Rusia telah memulai uji coba kapal selam strategis kelas Borey bertenaga nuklir pertama, yang akan dilengkapi dengan rudal balistik Bulava berbasis laut. Kapal selam Yury Dolgoruky dibangun di pabrik Sevmash di Rusia utara.

Panjang kapal selam ini adalah 170 meter, memiliki diameter 13 meter dari lambung, kru 107, termasuk 55 perwira, kedalaman maksimum 450 meter dan kecepatan selam sekitar 29 knot . Kapal selam ini dapat membawa sampai 16 rudal balistik dan torpedo. Dua kapal selam nuklir kelas Borey lainnya, Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh telah selesai pada tahun 2009 dan 2011. Rusia berencana untuk membangun total delapan kapal selam kelas ini pada tahun 2015.

Nerpa

Armada kapal selam serang bertenaga nuklir Rusia terdiri dari kapal selam kelas Oscar II dan Akula. Masing-masing kapal selam dilengkapi dengan 24 SS-N-19 Shipwreck rudal jelajah jarak jauh anti-kapal. Sebuah kapal selam serang generasi keempat bertenaga nuklir dari kelas Graney dikirim ke Angkatan Laut Rusia pada 2010. Kapal selam Severodvinsk menggabungkan kemampuan untuk meluncurkan berbagai rudal jelajah jarak jauh (hingga 3.100 mil) dengan hulu ledak nuklir, dan secara efektif dapat menenggelamkan kapal selam dan kapal perang permukaan musuh.

Kapal selam diesel-listrik di Angkatan Laut Rusia diwakili oleh kapal kelas Kilo. Mereka secara bertahap akan digantikan oleh Proyek 667 kapal selam kelas Lada. Sub fitur lapisan anti-sonar baru untuk lambung, daya jelajah diperjauh, dan persenjataan anti-kapal dan anti-kapal selam canggih, termasuk sistem rudal jelajah Klub-S. Kapal selam pertama dari kelas Lada, bernama St. Petersburg, saat ini sedang menjalani uji coba laut.

Dmitry Donskoy

Kapal selam kelas Lada yang kedua, Kronshtadt, merupakan yang pertama dalam seri produksi, juga sedang dibangun di galangan kapal St. Petersburg Admiralty dan telah beroperasi di tahun 2009. Kapal selam yang ketiga, diberi nama Sevastopol diluncurkan pada tahun 2010. Sumber itu juga mengatakan bahwa Angkatan Laut Rusia juga memiliki kapal selam "misi khusus", beberapa dirancang untuk pengujian teknologi baru dan persenjataan. Beberapa sumber terbuka lainnya sebelumnya menginformasikan adanya kapal selam diesel-listrik Proyek 20120 B-90 Sarov, yang memiliki reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik tambahan.

Kapal ditugaskan pada tahun 2007 dan digunakan oleh Armada Utara Rusia sebagai mata-mata kapal di perairan utara.


Sumber: Artileri

Menhan AS: Pasukan AS Siaga Hadapi Gejolak di Timteng

Marinir AS (Foto: Picanese) 
Marinir AS (Foto: Picanese)
 
WASHINGTON - Meningkatnya protes anti-Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah akibat peredaran film Innocent of Muslims membuat AS menyiagakan pasukan. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pertahanan AS Leon Panetta.

"Posisi kekuatan militer AS saat ini siaga dalam menanggapi kemungkinan terjadinya kerusuhan di sekira 17 hingga 18 negara di kawasan Timur Tengah. Kami harus siap bila unjuk rasa berlangsung di luar kendali," ujar Panetta kepada majalah Foreign Policy seperti dikutip AFP, Sabtu (15/9/2012).

Namun Panetta tidak menjelaskan secara rinci terkait hal tersebut. Spekulasi yang berkembang menyebutkan Pentangon saat ini tengah membahas kemungkinan untuk mengirimkan pleton ketiga yang terdiri dari 50 marinir yang dilatih khusus untuk melindungi Kedutaan AS di Sudan.

Pengiriman ini dimungkinkan setelah terjadinya serangan oleh sekelompok pengunjuk rasa ke Kedubes AS di Khartoum, Sudan yang menewaskan tiga orang. Bila disetujui maka pengiriman ini akan merupakan yang ketiga setelah sebelumnya AS diketahui juga telah pasukan marinirnya ke Libya dan Yaman.

Pernyataan Panetta terkait dengan kesiagaan militer AS ini muncul setelah beredarnya film Innocent of Muslim yang dinilai melecehkan Islam. Tak hanya gedung kedubes AS yang menjadi sasaran amukan massa namun sejumlah sekolah dan restoran yang menjadi simbol dari pengaruh AS juga turut menjadi target pengunjuk rasa.

Terkait dengan insiden penyerangan kedubes AS di Libya yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya Christopher Stevens, Panetta menolak berkomentar. Menurutnya masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan atas insiden tersebut.


Sumber: Okezone

Jumat, 14 September 2012

Korsel Bangun Pesawat Bunuh Diri Tak Berawak

Foto : Pesawat MQM-107D Streaker milik AS (uavision) 
Foto : Pesawat MQM-107D Streaker milik AS (uavision)
 
SEOUL - Korea Selatan (Korsel) membangun pesawat intai tak berawak yang sanggup meledakkan diri. Pesawat itu akan dimafaatkan untuk menyerang artileri dan peluncur roket milik Korea Utara (Korut) yang berada di wilayah pantai.

Industri Kedirgantaraan Korea (KAI) meluncurkan produk terbarunya berupa pesawat tak berawak yang dinamakan "Pembunuh Setan." Pesawat itu dirancang oleh KAI, Universitas Hanyang dan Universitas Konkuk.

Bobot pesawat bunuh diri itu hanya 25 kilogram, pesawat itupun memiliki sayap elastis. Pesawat Pembunuh Setan juga sanggup melaju dengan kecepatan 350-400 kilometer perjam dan menggempur target sejauh 40 kilometer.

"Pesawat ini sanggup mengejar dan menyerang kapal berbantalan udara yang melaju dengan cepat," ujar KAI, seperti dikutip Chosun, Jumat (14/9/2012).

Salah satu fitur canggih dari pesawat tak berawak itu adalah caranya dalam mengidentifikasi target. Seluruh target serangan pesawat itu bisa diidentifikasi dengan menggunakan video kamera dan Global Positioning System (GPS). Meski berbobot ringan, pesawat itu sanggup membawa bahan peledak seberat 3 kilogram yang setara dengan 10 granat.

Selain Korsel, Korut pun dikabarkan membangun persenjataan yang sama dengan musuhnya. Korut dikabarkan membangun pesawat kamikaze tak berawak, menggunakan teknologi MQM-107D Streaker yang dicuri dari AS.


Sumber: Okezone

Kamis, 13 September 2012

Kapal Patroli China Masuki Perairan Jepang


emasuki perairan Jepang di dekat kepulauan sengketa yang diperebutkan Beijing dan Tokyo, Jumat (14/9/2012), demikian pernyataan pasukan penjaga pantai Jepang.

Situasi ini semakin memanaskan sengketa perebutan pulau yang sudah berlangsung lama di antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di Asia itu.

Pasukan penjaga pantai Jepang memerintahkan kapal-kapal China itu untuk meninggalkan wilayah teritorial Jepang.

Menanggapi peringatan itu, dua kapal patroli China pergi namun dua lainnya tetap berada di wilayah Jepang.

Jepang tak menggunakan kekerasan apapun saat mengusir kedua kapal China itu.

"Kami mengusahakan yang terbaik dalam pengawasan dan penjagaan wilayah kami," kata Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda kepada wartawan soal reaksi atas insiden itu.

Kepulauan yang disengketakan adalah Senkaku atau Diayou berlokasi di dekat wilayah yang diyakini memiliki cadangan gas dan minyak yang sangat besar.

Ketegangan antara kedua negara semakin tinggi setelah Jepang mengatakan telah membeli kepulauan itu dari pemilik swasta tanpa menghiraukan peringatan China.


Sumber: Kompas

TNI AD Diperkuat 163 Tank : Nilai Pembelian Sekitar Rp 2,6 Triliun

Leopard 2 Revolution MBT (photo : Militaryphotos)

JAKARTA, KOMPAS — Meski tertunda, realisasi pembelian main battle tank Leopard semakin nyata. Indonesia akan membeli 163 tank yang terdiri dari 103 unit MBT, 50 unit tank medium, dan sepuluh unit tank pendukung.
Kepastian pembelian main battle tank (MBT) tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam pertemuan dengan Kuasa Usaha Jerman untuk Indonesia Heeidrun Tempel, Rabu lalu di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Sjafrie yang didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo mengatakan, terkait dengan pembelian tank tersebut, perwakilan dari pabrik Leopard, yaitu Rheinmetall, akan berada di Indonesia untuk penandatangan kontrak akhir September. Pada November, MBT Leopard sudah bisa dipamerkan dalam pameran Industri Pertahanan Indo De¬fence 2012.
Ke-103 MBT tersebut terdiri dari 61 unit MBT Leopard Revolution dan 42 unit MBT Leopard 2A4. Paket ini juga termasuk tank medium produksi Rheinmetall, yaitu Marder 1A3 sebanyak 50 unit, dan 10 unit lain tank pendukung seperti tank jembatan dan penarik.

Leopard 2A4 MBT (photo : KMW)

Beda dengan DPR
Pembelian tank ini bernilai 280 juta dollar AS (sekitar Rp 2,6 triliun) sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012. Sebelumnya, direncanakan anggaran tersebut untuk membeli 104 MBT Leopard 2A4.
Komisi I DPR secara resmi belum menyatakan persetujuan untuk pembelian ini. Secara internal, Agustus lalu, keputusan Komisi I adalah menyetujui pembelian tank medium.
Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri Kodiklat TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Purwadi Mukson, Karnis (13/9), menyambut gembira pembelian tersebut.
Ia menjelaskan, MBT Leopard Revolution berbobot 62 ton, sedangkan MBT Leopard 2A4 berbobot 59 ton. Kedua jenis tank ini termasuk tank berat, sedangkan Marder 1A3 tergolong tank medium.
"Marder ini bagus karena juga untuk mengangkut personel. Satu tank bisa untuk mengangkut 10 orang," ujar Purwadi.

Marder 1A3 (photo : Militaryphotos)
Di luar ekspektasi
Purwadi mengatakan, kelas MBT Leopard Revolution berada di atas MBT Leopard 2A4 yang dibeli dalam kondisi standar. Untuk turet, struktur di atas tank yang menjadi tempat dudukan senjata seperti canon dan senapan mesin, MBT Leopard Revolution telah digerakkan secara elektronik. Sementara itu, MBT Leopard 2A4 masih digerakkan secara hidrolik. Masing-masing menggunakan canon 120 milimeter, sedangkan Marder 1A3 dengan canon 20.
"Pembelian ini di atas ekspektasi. Tidak ada penurunan spesifikasi teknis. Malah amunisi semua lengkap," kata Purwadi.
Pengamat militer dari Imparsial, Al Araf, melihat keanehan dengan anggaran yang sama bisa didapat banyak sekali MBT. Ia khawatir, tank yang dibeli tidak dalam kondisi baik sehingga membutuhkan biaya retrofit dan perawatan tinggi.
Al Araf mengatakan, untuk menjawab kecurigaan tersebut, pemerintah harus transparan dalam pengadaan persenjataan termasuk kondisi barang dan perawatan dalam rentang waktu beberapa tahun ke depan.
Sumbaer: Defense Studies

Rabu, 12 September 2012

Jepang – China di Ambang Perang




japan Jepang   China di Ambang PerangDi tengah-tengah memanasnya suhu politik di Laut China Selatan, tiba-tiba saja Jepang membuat gebrakan dengan membeli sekelompok pulau yang tengah disengketakan dengan China. Pemerintah Jepang membeli tiga dari lima pulau di gugusan Senkaku yang selama ini disewa dari Keluarga Kurihara, seharga 26 juta dolar AS. Keluarga Kurihara membeli pulau yang tidak berpenghuni ini pada tahun 1972 dari keluarga Jepang lainnya.

Pemerintah China langsung bereaksi keras. Presiden China Hu Jintao memperingatkan pembelian tiga pulau itu oleh Jepang bersifat ilegal. Bahkan Perdana Menteri Wen Jiabao menegaskan tidak akan membiarkan sejengkalpun tanah Diayou yang kaya sumber daya alam dan gas bumi, lepas ke negara lain.
“Pulau ini bagian yang melekat pada China dan ini masalah kedaulatan wilayah”, ujar Perdana Menteri China. Untuk itu pemerintah China mengirim kapal patrolinya.

senkaku Jepang   China di Ambang Perang

Tahukah anda, apa reaksi Jepang atas gertakan China tersebut ?. Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, dengan dinginnya mengatakan: “Kekuatan militer China di wilayah sengketa adalah tantangan yang harus dihadapi”

Tentu China tidak menyangka respon dari Jepang seberani itu. Dengan kata lain Jepang telah bersiap untuk merespon dan memukul kekuatan militer China jika masuk ke gugus kepulauan Senkaku, China menyebutnya Diayou.

Sebagai seorang bushido, ucapan PM Jepang Yoshihiko Noda tentu bukan hanya gertak sambal. Militer Jepang pun tidak ragu ragu menangkap sekelompok aktivis China yang mendarat di pulau sengketa tersebut.
Kini bola berada di tangan China. Sejauh mana kapal patroli mereka berani mengganggu gugus kepulauan Senkaku.
senkaku island Jepang   China di Ambang Perang
Saya sedang membayangkan. Kapan militer Indonesia bisa berbicara segagah Jepang, saat wilayah NKRI diklaim atau diganggu oleh negara lain. Nyali besar seperti yang ditunjukkan oleh Jepang, tentu harus didukung oleh kemampuan militer yang kuat.

Jika tidak, nasibnya akan seperti Filiphina yang bersengketa dengan China di laut China Selatan atas pulau / gugusan karang Karang Scarborough.

Awalnya militer Filipina menangkapi nelayan China yang melaut di sekitar Karang Scarborough. Namun tindakan itu direspon China dengan mengirim gugusan kapal perang yang besar dan membuat militer Filiphina mundur. “Mereka benar-benar ingin menguji apa sebuah negara kecil seperti Filipina dapat melawan negara raksasa,” ujar Mayor Ego Loel tak berdaya.

Kisah konflik Filiphina – China mirip konflik Jepang – China, namun berakhir berbeda. Hal itu menunjukkan tindakan militer atau aksi militer sebuah negara harus disesuaikan dengan kemampuan militer mereka, jika tidak mau konyol atau dipermalukan oleh negara lain.

japan dispute 2 Jepang   China di Ambang Perang
Lalu apa yang terjadi akibat konflik antara Jepang dan China ?
Amerika Serikat meminta China dan Jepang untuk tidak meningkatkan ketegangan menyangkut sengketa kepulauan yang diklaim kedua negara, dan memperingatkan ketegangan antara kedua negara itu akan berdampak pada global.
“Ini adalah arena ekonomi global dan pertikaian jangan diperbesar. Semua pemimpin harus mencurahkan perhatian secara jujur,” ujar Asisten Menlu AS Kurt Campbell di Washington.
“Kita memiliki banyak pilihan dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas. Kita yakin bahwa dialog damai dan pemeliharaan perdamaian. Stabilitas adalah sangat penting terutama dalam situasi kini.”
AS mengatakan pihaknya tidak akan berpihak dalam sengeketa wilayah itu, kendatipun Jepang satu sekutu dekat mereka.
Walaupun diperingatkan oleh AS, namun China tetap saja bergerak. Selasa 11 September 2012, dua kapal pengintai China mulai berada di sekitar Pulau Diaoyu, yang disengketakan dengan Jepang.
Sumber dari China Marine Surveillance (CMS) mengatakan keberadaan dua kapal itu untuk menjaga kedaulatan China di sekitar wilayah tersebut, sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan menyusul pernyataan Pemerintah Jepang, yang membeli pulau tersebut.


china patrol Jepang   China di Ambang PerangSikap China ini langsung direspon oleh Jepang. Rabu 12 September 2012, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda memerintahkan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) untuk sepenuhnya siap menghadapi keadaan darurat, terutama terkait dengan masalah sengketa pulau dengan China.

Noda meninjau penjaga kehormatan JSDF di dalam Departemen Pertahanan, dan kemudian menghadiri pertemuan komandan senior JSDF, didampingi Menteri Pertahanan Satoshi Morimoto. Noda menyampaikan pidato kepada sekitar 180 komandan senior JSDF pada pertemuan tersebut.

Dalam pidato itu, Noda mengatakan ketidakpastian atas lingkungan keamanan di sekitar Jepang meningkat ke peringkat tertinggi karena aktivitas militer negara-negara di sekitarnya, termasuk Korea Utara, China dan Rusia, menjadi lebih aktif, sehingga JSDF harus memantau dan menganalisis negara-negara itu dengan ketat. Dia terutama menyebutkan bahwa China telah semakin aktif di laut sekitarnya.

japan shadow Jepang   China di Ambang PerangKini situasi konflik di pulau Senkaku memasuki titik terpanas. Jepang siap merespon segala tindakan dari militer China, jika menganggu atau memasuki gugus kepulauan Senkaku. Semoga tidak terjadi perang China dan Jepang yang notabene kekuatan ekonomi kedua dan ketiga di dunia. Jika perang terjadi, sudah pasti imbas ekonomi akan dirasakan oleh seluruh dunia. Terlepas persoalan konflik itu, gaya Jepang dalam merespon ancaman China terlihat cool dan keren. Semakin keren dan berwibawa karena Jepang tidak mencoba menarik-narik atau melibatkan Amerika Serikat dalam konflik (seperti yang biasa dilakukan Israel). Jepang memilih tampil tegak berdiri di kaki sendiri.


Sumber: JKGR

Selasa, 11 September 2012

Rudal Baru AS: Raytheon AIM-9X Block II

 
Rudal Raytheon AIM-9X Block II, merupakan rudal yang paling canggih untuk kisaran rudal udara-ke-udara jarak pendek milik AS. Dengan datalink, manuver vectoring dorong dan pencitraan inframerah yang baik akan mampu menemukan target disamping jet tempur peluncur rudal ini.
Tidak seperti model sebelumnya AIM-9, AIM-9X juga dapat digunakan untuk melumpuhkan target di darat. Datalink dua arah adalah perubahan yang paling signifikan yang diterapkan pada rudal Block II, karena memungkinkan rudal untuk terbang menuju sasaran yang tidak terlihat. Block II juga telah meningkatkan lock-on-after-launch, jangkauan dan cocok digunakan untuk target kecil.

Beberapa upgrade ini menjadikan rudal ini tetap bisa berkompetisi dengan rudal-rudal dari negara lain seperti AIM-132 ASRAAM Inggris, Python 5 Israel, IRIS-T Jerman dan R73/AA-11 Arche Rusia.

Karena rudal Raytheon AIM-9X Block II ini menggunakan sistem digital secara keseluruhan karena perubahan yang signifikan, dibutuhkan proses integrasi agar jet-jet tempur dapat memakainya. F-15C / D Eagle, F-16C / D Falcon, dan F/A-18 Super Hornet dapat menggunakan AIM-9X. Singapura telah memesan rudal ini untuk F-15SG Strike Eagle-nya, F-15K Slam Eagles Korea Selatan dan F-15SA Strike Eagle Arab Saudi, segera akan diintegrasikan dalam waktu dekat.

Pesawat Amerika lainnya, dan pesawat negara lain yang dapat menembakkan Sidewinders, terbatas hanya bisa menggunakan rudal sebelumnya yaitu AIM-9Ms. Perlu Anda ketahui ini juga termasuk F-22 Raptor.

Rudal AIM-9X menggunakan prosessor baru, baterai pengapian baru untuk motor roket, electronic ignition safety/arm device dan DSU-41/B Active Optical Target Detector (AOTD) fuze/datalink assembly. Tapi tak satu pun dari hal-hal ini yang secara signifikan meningkatkan kinerjanya, hanya saja OFS 8,3 adalah perangkat lunak yang menjadikan peningkatan untuk trajectory management untuk meningkatkan jangkauan rudal.
 
 
Sumber: Artileri

12-9-1959: Roket Pertama asal Soviet Mendarat di Bulan

 

VIVAnews - Pada 53 tahun yang lalu, Uni Soviet meluncurkan roket menuju Bulan. Roket bernama Lunik (Luna) II merupakan percobaan kedua bagi proyek ambisius Soviet dan akhirnya dikenal sebagai kendaraan pertama dari Bumi yang berhasil mendarat di Bulan.

Menurut stasiun berita BBC, Lunik II merupakan roket tanpa awak yang berbobot 391 kg dengan membawa instrumen yang mengukur wilayah magnetik Bumi dan Bulan serta lajur radiasi yang mengelilingi Bumi. Sebelumnya, Soviet sudah meluncurkan Lunik I pada 2 Januari 1959, namun gagal mendarat di Bulan sehingga dibuatlah Lunik II. 

Lunik II dinyatakan berhasil menyentuh Bulan 36 jam setelah peluncuran. Roket itu mendarat di wilayah sebelah timur, yang disebut Mare Serenitatis di dekat kawah Aristides, Archimedes, dan Autolycus.

Tim ilmuwan di Moskow menyatakan bahwa pendaratan Lunik II tidak bisa disaksikan dari Bumi, yang berjarak sekitar 381.131 km. Namun pendaratan itu bisa dideteksi hanya melalui transmisi radio, yang langsung berhenti begitu kendaraan menyentuh permukaan Bulan. 

Ilmuwan Soviet, Alexander Topchiev, saat itu optimistis bahwa keberhasilan Lunik II itu bisa menjadi cikal misi pengiriman manusia ke Bulan, yang akhirnya diukir oleh ketiga astronot Amerika Serikat pada 21 Juli 1969. Dua tahun setelah misi Lunik II, Soviet kembali mengukir sejarah saat berhasil mengirim Yuri Gagarin sebagai manusia pertama ke luar angkasa.


Sumber: Vivanews

Senin, 10 September 2012

Penambahan Armada Laut Sulit Terwujud


JAKARTA - Walaupun Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyadari betapa pentingnya penguatan keamanan maritim, tahun ini pemerintah belum mampu melakukan penguatan. Sebagai contoh, upaya pemekaran kekuatan armada laut yang sudah diinginkan jauh-jauh hari masih sulit terwujud.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, mengatakan anggaran pertahanan yang 42 persennya terserap untuk belanja pegawai sulit untuk membangun kekuatan armada laut.

Walaupun anggaran pertahanan pada 2012 mencapai 77 triliun rupiah, Kemhan belum bisa memenuhi target pembangunan armada. Pemekaran armada kekuatan laut membutuhkan anggaran besar.

Dia khawatir pemekaran akan gagal jika dilakukan secepatnya. Pemekaran armada membutuhkan personel yang banyak dan konsekuensinya membutuhkan dana besar.

"TNI tidak diperkenankan mengembangkan kekuatan jika dengan pengembangan itu nantinya menuntut pemenuhan personel melebihi jumlah yang dimiliki," kata Sjafrie, di Jakarta, Minggu (9/9). nsf/P-2


Sumber: Koran Jakarta

Minggu, 09 September 2012

Pasukan Pemukul Reaksi Cepat Pembuktian Kekuatan Militer Indonesia


Natuna (ANTARA Kepri) - Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Wan Zawali menilai latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) merupakan pembuktian kekuatan militer Indonesia.

"Kami menyambut baik latihan PPRC ini apalagi dilaksanakan di Natuna yang berada di perbatasan sehingga membuat negara tetangga agak takut melihat kekuatan TNI. Apalagi, Sabtu.

Wan Zawali mengatakan, ketangkasan prajurit Linud saat melakukan penerjunan serta pendaratan amfibi oleh Marinir merupakan satu penunjukan kekuatan mental para prajurit dalam menjaga kedaulatan negara.

"Kekuatan tempur di laut merupakan sangat penting mengingat Natuna memiliki lautan yang luas," ucapnya.

Menurut dia, pelaksanaan latihan di Natuna merupakan satu momentum yang tepat ketika sejumlah negara sedang terlibat sengketa kepemilikan beberapa pulau di Laut China Selatan.

"Pas momennya sehingga negara-negara yang terlibat sengketa dapat melihat bahwa Indonesia sangat serius menjaga kedaulatannya di perbatasan," ucapnya.

Mengenai interaksi para prajurit dengan masyarakat selama latihan, ia mengatakan sangat baik.

"Masyarakat sangat mendukung karena menyangkut pertahanan dan keamanan negara. Latihan ini bukan yang pertama kalinya, latihan yang sama juga pernah dilakukan pada zaman panglima ketika dijabat Wiranto," ucapnya.

Bupati Natuna Ilyas Sabli juga menyambut positif latihan PPRC di Natuna.

"Selaku pemerintah daerah dan atas nama masyarakat, kami berterima kasih kepada TNI yang menetapkan Natuna sebagai tempat latihan. Ini bisa menjadi momen bagi Natuna agar lebih dikenal baik di Tanah Air maupun luar negeri, sehingga nama daerah ini menjadi harum sehingga dipercaya untuk pelaksanaan kegiatan yang lebih besar," tuturnya.

Menurut dia, pelaksanaan latihan berjalan dengan baik dan sukses serta didukung penuh oleh masyarakat, terutama masyarakat desa yang menjadi pusat latihan.

"Selaku kepala daerah saya tentu berharap agar TNI selalu siap dalam mengamankan Natuna," tambahnya.

Latihan gabungan PPRC Kilat XXIX/2012 diikuti sekitar 2.500 prajurit dari sejumlah kesatuan berupa operasi lintas udara, operasi amfibi, operasi gabungan dan operasi serangan darat gabungan yang dilakukan d Desa Ceruk dan Paleman, Bunguran Timur Laut, Natuna.


Sumber: ANTARAnews

Marder Jerman Rujukan Model Tank Medium Pindad


Wujud tank medium Indonesia yang merujuk kepada IFV/ Tank Marder 1A3 Jerman semakin mendekati kenyataan. Pemerintah Indonesia telah mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah Jerman, agar mengirimkan 4 tank Leopard 2 dan 4 Marder 1A3, untuk ujicoba di Indonesia. 

Permohonan ini diajukan Indonesia pada bulan Juli 2012, ujar pihak Kementerian Pertahanan Jerman. Pemesanan 8 tank Jerman ini, merupakan bagian dari rencana Indonesia untuk membeli sekitar 100 MBT Leopard 2 dan 4 Marder 1A3.

Walau sempat memicu polemik, pembelian tank Leopard 2 dan Marder ini tampaknya akan terlaksana sebagaimana mestinya. Masalah pembelian itu telah dibahas Presiden SBY dan Kanselir Jerman Angela Merkel, awal Juli 2012 di Jakarta. Partai Hijau Jerman memang sempat menolak penjualan Tank Leopard 2 ke Indonesia terkait isu pelanggaran HAM di masa lalu. Namun Partai Hijau hanya partai minoritas di Jerman.

Perusahaan ternama Jerman, Rheinmetall sebenarnya telah mendisain Infantry fighting vehicle (IFV) Marder menjadi Tank canon 105mm dan siap menjualnya ke berbagai negara. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu lagi riset yang rumit untuk menggabungkan IFV Marder dengan turet Canon 105mm. 

Jalan cerita Tank Medium Pindad Indonesia, tampaknya mengikuti jejak panser Anoa yang sukses. Panser Anoa Indonesia merujuk kepada model panser VAB Renault Perancis. Dan Panser Anoa Indonesia, bisa dikatakan membanggakan dan mulai dimintai beberapa negara Asia dan Afrika.

Jika hendak meniru, tirulah produk yang benar benar paten. Panser Anoa sudah membuktikannya. Melihat rekam jejak itu, seharusnya proyek panser medium pindad yang merujuk kepada Marder 1A3, akan gilang gemilang, setidaknya akan membuat rakyat Indonesia tersenyum.

Tidak ada negara di dunia ini yang meragukan kendaraan tempur maupun lapis baja buatan Jerman. Bahkan Amerika Serikat hingga Israel ikut mengandalkan alutsista buatan Jerman itu. Jadi, kita tunggu saja wujud tank medium Pindad nanti. Ada perkembangan yang menarik, terkait kerjasama RI dengan Jerman.

Tiga light frigate Nakhoda Ragam Class Indonesia kini di-repowering/ di-upgrade di Lursen Jerman. Bersamaan dengan itu Indonesia sedang membuat Kapal Cepat Rudal KCR 60 di PT PAL Surabaya. Kemungkinan CMS (Combat management System) dari KCR 60 itu digarap di Jerman, dengan syarat adanya transfer of technology bagi Indonesia. Sementara sistem rudalnya, tetap merujuk ke China.

Dengan demikian, dari Jerman, kita akan kedatangan 100 MBT Leopard 2, cikal bakal Tank Medium Indonesia (Marder Model) dan 3 Light Frigat Nakhoda Ragam Class yang telah di-repowering 


 Sumber: IJKP