Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Sabtu, 03 November 2012

China Uji Coba Prototipe Pesawat Silumannya

Foto : Jet J-31 milik China (RT) 
Foto : Jet J-31 milik China (RT)
 
BEIJINGChina berhasil menguji coba model kedua dari pesawat silumannya. Uji coba itu menandai perkembangan teknologi penerbangan yang dimiliki oleh militer China.
Pesawat siluman J-31 dilaporkan menjalankan uji cobanya dengan sukses. Uji coba dilaksanakan di sekitar wilayah Kota Shenyang. Ini adalah uji coba pesawat siluman China yang kedua setelah pada tahun lalu China mencoba prototipe pertamanya, pesawat J-20, yang juga berjalan dengan sukses.

Selain kemampuan siluman yang dimilikinya fitur-fitur lain yang dimiliki oleh kedua pesawat tersebut masih belum diketahui. Tanggal produksi massal pesawat itu pun masih menjadi misteri. Demikian, seperti diberitakan oleh cbsnews, Jumat (2/11/2012).

Pesawat J-20 dirancang untuk menjadi pesawat pencegat yang akan berhadapan dengan pesawat milik musuh di udara. Sedangkan Pesawat J – 31 adalah pesawat pembom yang bertujuan menghancurkan sasaran-sasaran yang berada di permukaan.

“Saya pikir ini merupakan perkembangan yang patut diperhatikan, tapi kita masih belum bisa menduga seberapa besar kemampuan yang dimiliki oleh pesawat tempur tersebut”, jelas Greg Wladron, seorang pengamat penerbangan.

Walaupun berkembang secara pesat, teknologi penerbangan China masih meghadapi beberapa kendala, diantaranya kendala teknis dan biaya. Pengamat penerbangan Ross Babbage mengatakan, sejauh ini, China masih menggunakan mesin buatan Rusia untuk suku cadang pesawatnya. Ross Babbage.


Sumber:  Okezone

Bikin Kapal Selam, PT PAL Berguru ke Korea Selatan


VIVAnews - PT PAL Indonesia menggandeng Korea Selatan untuk melakukan transfer pengetahuan mengenai perkapalan. Selain itu, Korsel juga digandeng terkait akan dilakukannya pembangunan tiga unit kapal selam untuk TNI AL.

"Dalam waktu dekat, kami mengirim karyawan untuk bekerja sama dengan Korea membangun kapal selam melalui sistem learning by doing," kata Dirut PT PAL, Firmansyah Arifin.

Disebutkan, ada sejumlah karyawan akan dikirim ke Korea Selatan dalam rangka kerjasama memproduksi alutsista. Itu, lanjutnya, melibatkan Kementerian Pertahanan kedua bangsa. Kemenhan, selanjutnya memberi kesempatan kepada PT PAL untuk melaksanakan tugas tersebut.

Sedangkan Humas PT PAL, Bayu Wicaksono, mengungkapkan pengiriman karyawan diawali dengan proses penjaringan. PT PAL sudah memilih karyawan yang layak untuk disertakan dalam transfer pengetahuan di Korea.

"Saat ini DSME Daewoo perusahaan yang ditunjuk pemerintah Korea masih menyeleksi penerimaan. Pengumumannya kami belum tahu, tetapi kuota yang ditetapkan sebanyak 120 pegawai," ungkapnya.

Jumlah itu akan dikirim dalam beberapa gelombang. Selama di Korea karyawan PT PAL mendapat tugas melakukan alih teknologi untuk membangun kapal selam untuk kebutuhan TNI-AL.

PT PAL menyebut, informasi dari Kemenhan RI, sebanyak tiga kapal selam akan dimiliki TNI-AL. Dua kapal selam dengan type DSME 209 dibangun di Korea, sedangkan satu kapal selam lainnya dibangun di Surabaya.

"Ini adalah pengalaman pertama kami membangun kapal selam, setelah sebelumnya kami berpengalaman meng-overhaul (merakit) dua kapal selam KRI Cakra dan KRI Nanggala,” jelasnya.

Kapal selam yang akan dibangun PT PAL dilakukan setelah dua kapal selam selesai dibangun di Korea. Karena seluruh komponen dan teknologi yang dijalankan di Korea akan diwujudkan di Indonesia.

"Karyawan kami tidak membangun on table, tetapi langsung praktek merakit kapal selam. Dari hasil praktek itu akan diimplementasikan saat membangun di Surabaya," jelasnya.


Sumber: Vivanews

Indonesia Membeli 3 Matras Pertahanan Militer Dri Inggris

http://statik.tempo.co/data/2012/11/02/id_148479/148479_475.jpg 

London - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris David Cameron menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di kantor sekaligus kediaman Cameron, di 10 Downing Street. Kerja sama yang disepakati itu adalah di bidang pertahanan, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Kerja sama bidang pertahanan diteken Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Inggris Phillip Hammond, M.P. Kerja sama itu berupa bantuan peningkatan kapasitas bagi Tentara Nasional Indonesia di Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan dalam bentuk peralatan audio visual untuk pelatihan bahasa, juga menyediakan kursus-kursus dan seminar bagi anggota pasukan perdamaian.

Bentuk kerja sama di bidang pertahanan lainnya berupa kontrak penjualan alat-alat pertahanan kepada angkatan udara, angkatan darat, dan angkatan laut Indonesia. Peralatan itu di antaranya peluru kendali starstreak, senapan sniper, kapal perang kecil multiguna (Multi Roles Light Frigate – MLRF), dan suku cadang untuk pesawat tempur Hawk 109/209.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Mari Elka Pangestu dengan Menteri Kebudayaan Komunikasi dan Industri Kreatif Inggris Ed Vaizey menandatangani kerja sama bidang ekonomi kreatif.

»Kesepakatan ini sangat penting karena Inggris merupakan salah satu rujukan bagi pengembangan industri kreatif di Indonesia," kata Mari Elka Pangestu.

Kemudian di bidang pendidikan diteken Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhammad Nuh dengan Menteri Negara Universitas dan Sains Inggris David Willets.

»Kami ingin mengembangkan studi mengenai Indonesia di universitas-universitas di Inggris, seperti di Exeter, SOAS, dan Oxford, agar para ahli-ahli Indonesia asal Inggris akan lebih banyak," ujar Muhammad Nuh. Selain itu, ada beasiswa studi di Inggris untuk 150 mahasiwa Indonesia per tahun yang melengkapi beasiswa DIKTI. 

Ketiga penandatanganan MOU oleh para menteri dari Indonesia dan Inggris ini disaksikan langsung oleh Presiden SBY dan Perdana Menteri David Cameron.


Sumber: Yahoo

Boeing-Arab Saudi Teken Kontrak US$ 4 Miliar


TEMPO.CO, Jakarta - Boeing mendapat kontrak modernisasi pesawat jet tempur senilai US$ 4 miliar dari Angkatan Udara Royal Arab Saudi.

Reuters mengutip pernyataan Pentagon pada Jumat, 2 November 2012, bahwa pengadaan pesawat itu mencakup konversi 68 jet F155 menjadi F155-A baru.  Pentagon menyatakan, pengadaan tersebut ditargetkan selesai pada 31 Desember 2019 di Pusat Angkatan Udara Robins, Georgia.

Kontrak juga berlaku untuk penyediaan empat stand-up kits, dengan suku cadang dan pelengkapan pendukung yang diperlukan untuk kemampuan operasional jet tempur.

Sebanyak 150 unit pesawat F15S-A baru maupun hasil konversi akan menjalani perawatan di empat pangkalan Arab Saudi. Demikian informasi dari Robins. Kontrak ini merupakan kontrak penjualan pesawat militer terbesar yang tercatat di Robins.


Sumber: Tempo

Jumat, 02 November 2012

Yordania Kutuk Rencana Israel Dirikan Akademi Militer

Yordania Kutuk Rencana Israel Dirikan Akademi Militer
Pasukan tentara Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, AAMMAN -- Yordania pada Kamis (1/11) mengutuk dan menolak rencana Israel untuk mendirikan akademi militer di Al Haram Asy-Syarif (Bukit Knisah) di Jerusalem Timur, demikian laporan kantor berita resmi Yordania, Petra.

Al Haram Asy-Syarif adalah bagian dari tanah Palestina yang diduduki pada 1967, kata Menteri Penerangan Yordania dan Juru Bicara pemerintah Samih Maayatah.

Ia menyatakan tanah itu telah ditetapkan sebagai wilayah pendudukan oleh PBB dan hukum internasional. "Kegiatan permukiman Israel, yang ditolak dan tak dapat diterima, mungkin merusak perdamaian yang memang sudah goyah serta upaya untuk mewujudkan penyelesaian dua negara," kata Maayatah. 

Ia menambahkan pemerintah Israel mengirim tanda negatif ke arah perdamaian melalui dilanjutkannya kegiatan permukiman dan penerapa status quo de fakto di lapangan.

Maayatah mendesak masyarakat internasional untuk turun-tangan dan mengakhiri segala bentuk tindakan sepihak dan kegiatan permukiman Israel, kata Xinhua --yang dipantau di Jakarta, Jumat (2/11) pagi.

Ia juga menekankan perlunya upaya terpadu guna menghindupkan kembali perundingan perdamaian antara Palestina dan Israel.

Perundingan tersebut, katanya, mesti mengarah kepada berdirinya negara Palestina merdeka di perbatasan 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibukotanya, sejalan dengan kerangka rujukan internasional serta Gagasan Perdamaian Arab.


Sumber: Republika

Diam-Diam Kamboja Beli 100 Tank

Foto : Tank Kamboja (HRW) 
Foto : Tank Kamboja (HRW)
 
PHNOM PENH – Kamboja mengejutkan negara-negara tetangganya setelah negara tersebut membeli 100 Tank dan 40 Panser secara diam-diam. Pembelian tersebut diketahui setelah kendaraan lapis baja tersebut telah dikirimkan ke Kamboja.

Surat Kabar Phnom Penh Post melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Kamboja Jenderal Tea Banh, baru mengkonfirmasi pembelian tersebut kemarin. Sampai saat ini sumber pendanaan dari pembelian tersebut tidak dapat diketahui.

Jenderal Tea Banh menyatakan bahwa pembelian tersebut diperlukan untuk meningkatkan kemampuan militer dari negara yang akhir-akhir ini berkonflik dengan Thailand tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja, Koy Kuong, juga menolak untuk memberikan komentar dan mengaku dirinya kurang mengetahui perihal pembelian kendaraan lapis baja tersebut.

Salah satu sumber menyatakan bahwa persenjataan tersebut telah sampai di pelabuhan Sihanoukville, kemarin. Juru bicara partai oposisi Sam Rainsy, Yim Sovann, juga menunjukkan keterkejutannya dan tidak menyangka akan adanya pembelian kendaraan tempur dengan jumlah yang banyak. Demikian, seperti diberitakan oleh Bangkok Post, Jumat (2/11/2012).

Sovann menyatakan bahwa seharusnya tiap pembelian senjata harus dilakukan secara transparan dan dibahas di parlemen. Dia juga tidak tahu alasan kenapa pemerintah Kamboja menyembunyikan pembelian ini.
 
 
Sumber: Okezone

Meningkatnya Kemampuan Pesawat Tempur J-15 China

J-15 China
J-15 China (Kredit Foto: Nachomdqcor)
Pesawat tempur J-15, merupakan heavy bomber yang dikembangkan secara independent oleh China, memiliki karakteristik yang sangat baik untuk ditempatkan di kapal induk. Namun masih butuh waktu bagi J-15 untuk dikolaborasikan dengan kapal induk China Liaoning agar lebih efektif dalam pertempuran, kata seorang analis milier yang diungkapkan dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Kapal induk sangat berhubungan erat dengan setiap pesawat angkatan laut versi aircraft carrier atau kapal perang lainnya, yang digunakan untuk menyerang target di udara, di dalam air, di tanah dan melaksanakan tugas-tugas peringatan dini, scouting, patroli, convoying, mine-laying, mine clearance dan pendaratan vertikal. Kapal induk digunakan sebagai salah satu senjata utama bagi angkatan laut dalam pertempuran dan sebagai kekuatan penting untuk merebut dan mempertahanankan wilayah udara dan laut di medan perang maritim.
Hal ini juga menjadi perhatian dunia luar ketika J-15 akhir-akhir ini terus menjadi pembicaraan, apakah dalam beberapa hari kedepan J-15 akan segera dilengkapkan pada kapal induk Liaoning China?. Karena dari informasi yang beredar, J-15 telah berhasil landing dan take-off di atas kapal induk Liaoning. Namun angkatan laut China mengatakan bahwa itu adalah pertama kalinya bagi China khususnya J-15 melakukan latihan lepas landas dan mendarat di kapal induk, masih perlu waktu bagi J-15 untuk dilengkapkan ke kapal induk Liaoning.
Selain itu, dunia luar juga memberi perhatian khusus mengenai kinerja J-15. Seorang analis kedirgantaraan mengatakan bahwa J-15 adalah pesawat tempur diatas generasi ketiga. J-15 memiliki kinerja tempur yang unggul dan memiliki karakteristik yang baik sebagai pesawat pelengkap kapal induk.
J-15 terbang diatas kapal induk Liaoning
J-15 terbang diatas kapal induk China Liaoning (foto :fyjs.cn )
Dun Wenlong, seorang kolonel senior dan peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Militer China, mengatakan kepada wartawan dalam sebuah wawancara, "Pertama, merupakan tugas berat bagi sebuah pesawat berbasis kapal induk, yang berarti pesawat tersebut harus memiliki jangkauan terbang yang lebih jauh, amunisi dan bahan bakar yang lebih banyak/besar, control range dan memiliki kemampuan tempur yang sangat baik. J-15 kompatibel dengan berbagai jenis amunisi dan mempunyai fungsi yang hampir sama dengan pesawat-pesawat yang berbasis kapal induk lainnya. J-15 mampu lepas landas dan mendarat di kapal induk Liaoning merupakan sebuah pertanda yang baik bagi Angkatan Laut China dan khususnya J-15 it sendiri".
Berbicara mengenai pentingnya pesawat yang berbasis kapal induk untuk keefektifan pertempuran, Wen long mengatakan "Kekuatan tempur utama dari sebuah kapal induk adalah pesawat terbang, maka mayoritas negara di dunia menganggap program dan pelatihan pesawat yang berbasis kapal induk sebagai prioritas utama."
 
 
Sumber: Artileri

Rabu, 31 Oktober 2012

Leopard Akan Diperkenalkan di Indo Defence

 
JAKARTA - Kementerian Pertahanan akan memperkenalkan untuk pertama kalinya main battle tank Leopard di Pameran Indo Defence V 2012 Expo and Forum mulai 7 hingga 10 November mendatang di Jakarta Convention Center (JCC). Pada pameran itu, Pemerintah Indonesia dan Rheinmetall sebagai produsen Leopard akan menandatangani nota kesepakatan (MoU) pembelian Leopard.

"Nota kesepakatan sebagai implementasi dari kontrak yang selama ini telah kita sepakati. Tinggal proses produksi dan pembiayaan dari pengadaan itu," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (30/10).

Jumlah pembelian Leopard yang disepakati adalah 100 unit, termasuk pembelian tank kelas menengah Marder sebanyak 50 unit serta tank pendukung sebanyak 7 unit.

Sjafrie memerinci bahwa jenis Leopard yang didatangkan ke Indonesia adalah Leopard 2A4 dan Leopard Revolution (jenis modifikasi dari Rheinmetall). Semua tank itu dibeli dengan harga 280 juta dollar AS yang diambil dari pinjaman dalam negeri. "Kedatangan tank tersebut dilakukan bertahap mulai dari 2012, 2013, hingga semester pertama 2014," kata Sjafrie.
 
 
Sumber: Koranjakarta

Pindad Banjir Pesanan dari TNI


Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Utama Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) Adik Avianto Soedarsono mengungkapkan, pesanan peluru dari TNI tahun ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tahun lalu kebutuhan peluru TNI bisa 100, kalau tiga kali berarti 300 peluru," kata Adik mengumpamakan di Jakarta, Rabu (31/10). Kini, tambahnya, BUMN bidang senjata itu tengah mengerjakan pesanan peluru SS109.

Adik menambahkan, perseroan telah memperoleh fasilitas kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai Rp156 miliar untuk mesin amunisi kaliber 5,56 milimeter. Mesin tersebut baru dapat diperoleh dalam 18 bulan ke depan.

"Kita diberi tenor 10 tahun, sehingga masih banyak waktu bagi kami untuk menyelesaikan kewajiban kepada BRI," tuturnya.

Ia menggarisbawahi bahwa pinjaman tersebut dilakukan karena penyertaan modal negara senilai Rp300 miliar dari Rp700 miliar yang diajukan belum cair. Apabila suntikan dana dari pemerintah dapat digulirkan, maka perseroan akan segera melunasi fasilitas kredit tersebut.

"Kita tidak bisa selalu tergantung dan menunggu kapan cairnya PMN itu, makanya kita minta izin dari Menteri BUMN untuk dapat meminjam," tuturnya.

Selain itu, Pindad juga tengah mengerjakan enam unit Komodo, sebuah kendaraan tempur lapis baja yang memiliki kemampuan bermanuver sangat baik, pesanan Kopassus, TNI AD, dan Brimob.

Enam unit pesanan itu yakni, dua Komodo varian pendobrak untuk 10 personel pesanan Kopassus, tiga Komodo varian Armored (tahan peluru) Personnel Carrier (APC) atau pembawa pasukan untuk 10 personel dan satu versi rudal mistral (anti serangan udara) untuk TNI AD. Prototipe Komodo sudah diperkenalkan di RITech Expo di Bandung pada September 2012.

Komodo tersebut seberat empat ton dan berdaya jelajah 450 kilometer. Selain mesin, seluruh prototipe Pindad selesai sejak Maret 2012 dan bisa dipesan dan dimodifikasi sesuai keinginan.

 Sumber: Metrotv


Selasa, 30 Oktober 2012

PT DI Siapkan Lini Produksi Pesawat Transpor Militer CN 295

 
CN 295 diparkir di apron Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta beberapa waktu lalu. (JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)
 
BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia saat ini tengah menyiapkan lini produksi untuk pesawat transport menengah CN 295. Pesawat ini sudah memperkuat jajaran armada TNI AU dab merupakan pengembangan dari CN235.
 
“Pesawat CN235 dirancang dan mulai terbang pada 1980-an, kini tercatat salah satu jenis pesawat transpor populer dan banyak digunakan di seluruh dunia. CN295 adalah pengembangannya,” kata IP Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero). Windu mengatakan karena merupakan pengembangan dari CN235 yang dirancang bangun bersama Indonesia dan Spanyol, maka bagi pihaknya rincian pembuatan CN295 di PTDI bukan sesuatu yang memerlukan pengetahuan asing sama sekali.

Windu menjelaskan CN 295 telah memasuki pasar dunia sejak 1996 oleh Airbus Military (konsorsium Eropa dan CASA terlebur di dalamnya), merupakan pesawat yang mempunyai kapasitas dan jangkauan lebih besar serta memiliki tingkat kehandalan dan dukungan operasional yang sama dengan CN 235.

Pesawat CN295 pun mampu membawa beban muatan hingga 9 ton dengan kecepatan terbang normal hingga 260 knot (480 km/jam). Pesawat ini juga mempunyai bentuk yang kokoh, kualitas terbang serta multifungsi yang menawarkan biaya operasinal rendah, termasuk bahan bakar dan pemeliharaan.

Sebagai pesawat generasi baru dari hasil pengembangan CN 235, pesawat CN 295 dengan segala kemampuan serta sistem yang dimilikinya, sangat cocok untuk tugas-tugas yang diemban TNI AU. Desain dan kontruksi yang dibuat menggabungkan kekuatan, ketahanan dan karakteristik operasi militer dengan tingkat keselamatan dan kehandalan tinggi.

Selain itu, kapabilitas STOL (Short Take Off & Landing) membuat CN 295 mampu lepas landas dan mendarat pada landasan paling buruk sekalipun. Dengan muatan penuh, CN 295 bisa lepas landas dari lapangan terbang sepanjang hanya berkisar 600 meter. “Untuk menjadi CN 295, beberapa struktur pesawat yang ada di tubuh CN 235 diperkuat dan dilakukan beberapa perubahan, di antaranya perangkat pendarat, sayap tengah, mesin dan baling-baling, selain badan pesawat diperpanjang tiga meter,” kata Windu.

Kementerian Pertahanan RI membeli sembilan unit CN 295 hasil kerja sama antara PTDI dan Airbus Military ini. Dua unit telah diserahkan pada 4 Oktober 2012 yang dibuat di Spanyol, sedangkan sisanya tujuh unit akan diproduksi di Bandung dengan rencana penyerahan empat unit pada 2013 dan tiga unit pada 2014.
“Guna mendukung program plan tersebut, saat ini kami sedang melakukan beberapa persiapan, di antaranya menyiapkan pencetakan badan pesawat (jig fuselage) untuk yang kelebihan panjang badan tiga meter serta pembangunan pusat lini perakitan,” katanya. Dengan menggunakan manufaktur dan lini perakitan terbaru, PTDI dan Airbus Military berharap dapat mengirimkan pesanan pesawatnya ke customer dalam kurun waktu 12 bulan, atau bahkan lebih cepat.


Sumber: Solopos

China-Jepang Bentrok di Sekitar Kepulauan Senkaku


BEIJING - Pemerintah China melaporkan, Kapal Patrolinya terlibat dalam aksi konfrontasi dengan kapal patroli Jepang di wilayah Kepulauan Senkaku. Pulau itu selama ini terus menjadi obyek rebutan kedua negara.

Pemerintah China menyebutkan, armada patrolinya yang terdiri dari empat kapal bertemu dengan kapal patroli Jepang di sekitar kepulauan sengketa tersebut. Merasa mereka masih berada di wilayahnya, armada kapal China kemudian melakukan tindakan pengusiran terhadap kapal patroli Jepang.

Sedangkan pihak Jepang menyatakan, kedua kapal sama-sama mengirimkan pesan yang menyebutkan bahwa kedua belah pihak merasa sedang berada di wilayahnya sendiri. Kedua pihak pun saling meminta untuk kapal lainnya untuk keluar dari wilayah sengketa. Demikian diberitakan Associated Press, Selasa (30/10/2012)

Akhir-akhir ini Pemerintah China menggiatkan aktivitas patroli di sekitar kepulauan yang mereka sebut Pulau Diayou. Patroli dilakukan berkaitan dengan kebijakan sepihak Jepang yang melakukan nasionalisasi kepulauan itu.

Selain disengketakan oleh China dan Jepang kepulauan tersebut juga diklaim oleh Taiwan. Namun melihat level kekuatan Taiwan, sepertinya mereka tidak akan mampu untuk melawan dua kekuatan besar di Asia.


Sumber: Okezone

Rafale C137 dengan Radar AESA

Dassault Rafale
Dassault Rafale di USS Dwight D.Eisenhower
(Foto:commons.Wikimedia.org)
Badan Pengadaan Pertahanan Perancis (DGA) telah resmi menerima penyerahan jet tempur Dassault Rafale C137, merupakan Rafale pertama yang dilengkapi dengan radar RBW2 AESA buatan Thales.
Dassault Rafale merupakan pesawat tempur pertama yang saat ini berada dalam layanan operasional angkatan bersenjata di Eropa yang menggunakan radar jenis ini.
Radar RBE2 AESA menjadikan Rafale memiliki sejumlah keunggulan dalam hal operasional, antara lain:
- Jangkauan radar meningkat yang juga support untuk pendeteksian target low-observable
- Dapat diintegrasikan dengan sistem senjata baru seperti rudal udara-ke-udara Meteor
- Daya tahan tinggi yang menjadikan intensitas pemeliharaan dan biaya berkurang
- Pencitraan yang lebih baik dan peningkatan daya tahan dari jamming (gangguan, macet)
Dassault Aviation dan Thales patut berbangga karena telah melengkapi Angkatan Bersenjata Perancis dengan teknologi radar canggih, yang kini untuk pertama kalinya memasuki layanan operasional pada pesawat tempur Eropa. Proyek ini selesai tepat waktu dan sesuai anggaran, merupakan suatu proyek bersama yang patut dijadikan teladan. DGA berterimakasih atas keberhasilan kerjasama ini kepada semua perusahaan yang terlibat dalam program AESA RBE2.
Versi ekspor selanjutnya dari Rafale juga tetap akan dilengkapi dengan teknologi radar AESA.
 
 
Sumber: Artileri

Pasokan Energi dan Kekuatan Maritim


Sejarah membuktikan, sejak krisis minyak 1973 di negara-negara Barat, energi menjadi komoditas yang mampu memicu suhu politik dan keamanan dunia.

Dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Timur, peran Indonesia di Asia Pasifik sebagai tempat berinvestasi jadi sangat menarik. Sumber daya alam dan energi yang relatif banyak, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia menjadi faktor-faktor pendukungnya.
Keunggulan komparatif ini tak bisa maksimal manfaatnya jika infrastruktur dan pasokan energi belum memadai. Sementara lokasi dan kondisi geografi Indonesia yang rentan ancaman keamanan dan bencana, penanganannya pun terkait erat pemenuhan energi domestik.

Kekuatan Maritim 

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai kedua terpanjang di dunia, dan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI: PP No 37/2002), ancaman terhadap keamanan maritim Indonesia cukup banyak dan beragam. Ancaman bisa dari dalam dan luar, seperti perompakan, terorisme, penyelundupan, pencurian ikan dan kekayaan laut lainnya.

Salah satu tolok ukur dari kekuatan maritim Indonesia adalah penguasaan terhadap ALKI I (Selat Malaka-Karimata-Sunda), ALKI II (Selat Makassar-Lombok), dan ALKI III (Selat Leti- Ombai). Setiap tahun, Selat Malaka dilalui 60.000 lebih kapal, mengangkut seperempat perdagangan dunia. Selat ini juga dilalui muatan strategis berupa 15 juta barrel minyak per hari, memasok energi ke negara-negara maju Asia Timur seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.

Karena perannya yang strategis, keberadaan ALKI dapat dijadikan bargaining chip dalam diplomasi. Ini bisa terwujud jika didukung kekuatan maritim yang tangguh. Namun, di kawasan Asia Tenggara sendiri masih ada perbedaan cara pandang terkait keamanan maritim bersama. Indonesia dan Malaysia menolak kehadiran kekuatan asing menjaga Selat Malaka, sedangkan Singapura mengharapkan Jepang atau Amerika ikut campur dalam penanganan keamanan selat ini.

Ada dugaan, jika suhu geopolitik di kawasan Asia Tenggara memanas, Selat Malaka berpeluang jadi ajang kekuatan negara- negara besar. Artinya, peningkatan kekuatan maritim di ketiga ALKI merupakan unavoidable destiny. Hal ini mengingat pada masa lampau pengembangan TNI belum sepenuhnya untuk kekuatan maritim.

Menurut ICC International Maritime Bureau (2012), jumlah pembajakan, termasuk percobaan, di Asia Tenggara terus meningkat, terutama di perairan Indonesia, yaitu 21 pada 2011 dan 32 pada 2012. Ke depan, peluang ancaman terorisme terhadap tanker BBM dan LNG/LPG di kawasan Selat Malaka masih terbuka, baik dengan cara memasang bom di kapal atau langsung menabrakkan tanker ke target.

Kondisi di atas menggiring Indonesia untuk memperkuat armada lautnya. Penguatan armada tak hanya jumlah dan jenis peralatan militer, tetapi juga pasokan energi dan infrastruktur pendukungnya. Kapal perang TNI AL mengonsumsi energi terbesar ketimbang peralatan militer yang dimiliki oleh matra AD dan AU. Pangkalan utama TNI AL sering menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan BBM-nya, termasuk dalam kondisi normal.

Simulasi yang dilakukan oleh Universitas Pertahanan Indonesia menunjukkan, untuk operasi penutupan sebuah ALKI—dan pengamanan perbatasan laut dengan negara tetangga dalam waktu 24 jam—dibutuhkan paling tidak 1 juta liter solar per hari. Ini belum termasuk saat keberangkatan sehingga operasi pengamanan maritim butuh pasokan energi yang besar.

Penanganan Bencana 

Di sisi lain, wilayah Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar (Indo- Australia, Eurasia, Pasifik) dan bagian dari cincin api Pasifik juga merupakan ancaman bagi ketahanan ekonomi dan pada akhirnya ke keamanan nasional. Ancaman bisa terjadi setiap saat berupa aktivitas gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.

Bencana berskala besar pernah terjadi di Indonesia, seperti tsunami di Aceh 2004 dan gempa bumi di Sumbar 2009. Bencana pun bisa terjadi karena ulah manusia, seperti kebakaran, banjir, dan longsor. Bencana seperti ini akan berulang dan integral dengan kehidupan manusia.
Menyadari hal-hal di atas, Pemerintah Indonesia telah berupaya melakukan mitigasi berupa peringatan dini, rute dan latihan evakuasi, serta peningkatan pemahaman masyarakat tentang risiko bencana. Sebagai wujud nyata, BNPB kini tengah berupaya membangun 26 shelter di Pariaman dan Agam untuk menampung sekitar 30.400 jiwa.

Upaya mitigasi bencana berjangka pendek memang perlu, tetapi itu saja tidak cukup. Pada kondisi nyata, evakuasi tanpa korban dari jumlah penduduk sebanyak dan dalam waktu sesingkat itu tidaklah mudah. Terlebih jika bencana terjadi pada dini hari. Guna menekan jumlah korban dan atau upaya mitigasi jangka panjang, maka akar masalah harus teratasi. Bagaimana?

Banyak sebab masyarakat pesisir pantai ”enggan” meninggalkan habitatnya meski sadar nyawanya terancam. Terbatasnya lapangan pekerjaan di kawasan aman penyebab utamanya. Ini titik awal timbulnya lingkaran kemalangan bencana.

Ciri dari masyarakat yang demikian adalah konsumsi energi per kapita (BBM dan listrik) yang rendah. Sementara larangan pemerintah kepada masyarakat untuk tidak bermukim di daerah rawan bencana pada radius tertentu juga krusial. Oleh karena itu, peran energi dalam mendongkrak roda perekonomian dan menciptakan lapangan kerja jadi mutlak. Ketersediaan infrastruktur, pasokan, dan daya beli energi masyarakat menjadi solusi jangka menengah-panjang dalam mengatasi lingkaran kemalangan bencana.

Benang Merah Keamanan 

Ada benang merah antara peran energi dengan penanganan masalah keamanan maritim dan bencana. Sudah saatnya pembelian peralatan militer TNI AL dibarengi dengan anggaran yang memadai untuk infrastruktur, energi, dan pengembangan SDM. Diversifikasi energi untuk peralatan TNI AL dari solar (HSD) ke biodiesel krusial karena armada laut harus selalu siap dikerahkan pada kondisi darurat.

Penggunaan korvet untuk penangkapan pencurian ikan dan penyelundupan perlu dikaji ulang karena boros energi. Penjaga pantai perlu diberdayakan agar TNI AL lebih fokus dalam melakukan tugas-tugas pokoknya. Sementara itu, bagi terwujudnya sistem pertahanan negara yang kokoh, terutama di wilayah perbatasan utara dan timur Indonesia yang rawan konflik, cadangan penyangga minyak strategis sangat diperlukan.

Terakhir, pembekalan pengetahuan dan pembentukan karakter kepada calon pemimpin bangsa melalui program studi pascasarjana jurusan keamanan maritim (maritime security). Inisiatif pendirian program ini telah dilakukan Universitas Pertahanan Indonesia, dimulai tahun ajaran 2013/2014. Program Studi Maritime Security berada pada Sekolah Studi Keamanan yang telah memiliki dua program lainnya: Energy Security dan Disaster Management. Ketiga program ini merupakan upaya pelembagaan sekaligus jawaban berjangka menengah-panjang terhadap ancaman kerentanan energi, keamanan maritim, dan bencana nasional. 


Sumber: Kemham

Minggu, 28 Oktober 2012

Foto : Pesawat Karrar milik Iran (RT) 
Foto : Pesawat Karrar milik Iran (RT)
 
TEHERAN - Menteri Pertahan Iran Jendral Ahmad Vahidi mengatakan, pesawat tak berawak milik Iran saat ini makin canggih. Teknologi pesawat-pesawat baru itupun diklaim lebih canggih ketimbang pesawat yang diluncurkan oleh Hizbullah.

Iran menyinggung teknologi pesawat intainya yang baru, dan mengatakan, pesawat-pesawat intai Negeri Persia sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Pesawat-pesawat itu pun sanggup memasuki wilayah udara Israel.

"Pesawat tak berawak buatan Iran yang diluncurkan Hizbullah bukanlah pesawat 'dengan teknologi tercanggih di Iran'," ujar Vahidi, seperti dikutip IRNA, Senin (29/10/2012).

"Republik Islam Iran memiliki pesawat tak berawak dengan teknologi yang sangat canggih. Hal ini mengingat maraknya pelanggaran kedaulatan udara Lebanon yang dilakukan oleh rezim Zionis," tegasnya.

Vahidi tidak menjelaskan secara detil perbandingan pesawat intai Iran yang baru dengan yang diluncurkan Hizbullah pada awal Oktober. Pesawat yang digunakan Hizbullah memang merupakan buatan Iran, namun dirakit di Lebanon.

Pesawat intai itu berhasil memasuki wilayah Palestina yang diduduki Israel namun pada akhirnya ditembak jatuh. Meski demikian infiltasi pesawat tak berawak itu juga terbukti membuat Israel panik.

Usai peristiwa itu terjadi, Hizbullah akhirnya muncul dan mengklaim dirinya sebagai pihak yang mengirimkan pesawat itu. Hizbullah mengatakan pula bahwa, pengiriman pesawat intai tersebut bukanlah yang pertama kali dilakukannya.


Sumber: Okezone

Sudan Ancam Serang Basis-Basis Strategis Israel



Menteri Intelejen Sudan mengancam akan menyerang basis-basis strategis Israel yang ada di dunia. Hal tersebut diungkapkannya mereaksi serangan rezim Zionis terhadap pabrik senjata al-Yarmouk.

Dalam wawancaranya dengan BBC, Ahmed Bilal Osman mengatakan, "Sudan memiliki bukti-bukti valid yang menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan Israel."
 
Ia menambahkan, "Tuduhan kepada Israel terkait penyerangan pabrik senjata Yarmouk bukan tanpa alasan dan bukti. Teknologi canggih yang digunakan dalam penyerangan itu tidak dimiliki satu negara pun di kawasan kecuali Israel, terbukti sebelum penyerangan, radar-radar bandara Khartoum berhasil mereka lumpuhkan."
 
"Sudan tidak bermusuhan dengan negara manapun di kawasan, kecuali dengan Israel. Sebelumnya rezim itu telah mengumumkan, pabrik senjata Yarmouk mengancam kepentingan strategis dan internalnya", ungkap Osman.
 
Pemerintah Sudan akan mengajukan dokumen pengaduan ke DK-PBB terkait masalah itu, mereka mengatakan, "Langkah yang lebih keras akan diambil Sudan dengan menjadikan basis-basis strategis Israel sebagai sasaran.


Sumber: Irib

Iran: "Drone" Hezbollah Dekati Reaktor Nuklir Israel

Sebuah helikopter Israel mencari puing-puing pesawat tak berawak yang ditembak jatuh di wilayah utara Negev, Sabtu (6/10/2012). Pesawat tak berawak itu memasuki wilayah udara Israel dari Laut Mediterania.

TEHERAN, KOMPAS.com — Iran mengatakan, pesawat nirawak (drone) yang dicegat di wilayah Israel beberapa waktu lalu bukanlah teknologi paling mutakhir yang dimilikinya.

"Pesawat tak berawak yang diterbangkan di atas wilayah Quds yang diduduki oleh pasukan perlawanan Lebanon itu pasti bukan teknologi terbaru Iran," kata Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi pada Minggu (28/10/2012).

"Iran saat ini memiliki pesawat nirawak dengan teknologi jauh lebih canggih dan rumit yang digunakan dalam pesawat-pesawat yang baru terbang di atas langit Israel oleh Hezbollah," tegasnya.

Vahidi mencatat bahwa penerbangan pesawat tanpa awak di dalam perbatasan Israel "menunjukkan kekuasaan" Hezbollah dan "pukulan besar bagi Israel" yang merusak propaganda kubah besinya.

Menurut Sekretaris Jenderal Hezbollah Sayyed Hassan Nasrallah, operasi berkode "Hussein Ayub" itu memperlihatkan pesawat nirawak Hezbollah terbang ratusan kilometer ke dalam wilayah udara Israel dan mendekati pembangkit nuklir Dimona, tanpa terdeteksi kecanggihan radar Israel dan Amerika Serikat.

Hezbollah berencana mengirim pesawat lebih banyak di atas Israel di masa mendatang, kata Nasrallah. Ditambahkannya, operasi itu menunjukkan gerakan perlawanan siap melindungi Lebanon. 
 
 
Sumber: Kompas

Ketika Senjata Tempur TNI Sudah Tua dan Lelah

foto
Sejumlah perlengkapan alusista yang akan di pamerkan di Kawasan Monas, Jakarta, (05/10). Dalam rangka HUT TNI ke-67, TNI akan menampilkan berbagai macam jenis senjata, tank dan halikopter pada 6-8 Oktober. TEMPO/Dasril Roszandi
 
 
 TEMPO.CO, Jakarta - Persenjataan TNI tidak hanya jauh dari kebutuhan kekuatan minimum, tapi kondisinya juga mengenaskan. Mayoritas senjata berusia 25-40 tahun dan tak sedikit yang ngadat ketika digunakan. Akibatnya, tak semua senjata TNI ini siap dipakai saat bertempur.

Majalah Tempo edisi 29 Oktober 2012 menurunkan laporan tentang pengadaan alat tempur TNI. Data Sekolah Staf Komando TNI pada 2005, misalnya, menunjukkan skuadron tempur Angkatan Udara hanya memiliki tingkat kesiapan rata-rata 30 persen. Hampir 30 persen tank dan 48,2 persen meriam milik Angkatan Darat rusak. Sedangkan sebagian besar kapal perang Angkatan Laut sudah berusia di atas 25 tahun.

Kondisi ini kian parah karena nyaris tak ada peremajaan senjata. Bahkan, menurut Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Siddiq, sejak reformasi 1998 hingga akhir 2010, nyaris tak ada pengadaan senjata baru. Karena itu, menurut Mahfudz, peremajaan dan modernisasi persenjataan TNI mendesak dilakukan.

Anggaran pertahanan yang cekak dianggap sebagai penyebab. Sejak 2004, bujet militer memang naik dari Rp 21,7 triliun menjadi Rp 72,54 triliun pada 2012. Namun, anggaran itu tak sepenuhnya dipakai untuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista). Hanya sekitar Rp 28 triliun alokasi untuk pos ini. Baru pada 2030, menurut Asisten Bidang Kebijakan Komite Kebijakan Industri Pertahanan Said Didu, anggaran pembelian peralatan militer akan menembus Rp 100 triliun per tahun.
 
 
Sumber: Tempo