Laman

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Rabu, 18 Juli 2012

"Negara Teluk Tak Butuh Bantuan AS"

USNS Rappahannock (Foto: Reuters)
USNS Rappahannock (Foto: Reuters)
TEHERAN - Iran mengkritik Amerika Serikat (AS), setelah kapal perang USNS Rappahannock melepaskan tembakan di kawasan Teluk Persia sehingga menyebabkan seorang nelayan India terbunuh. Bagi Iran, tindakan AS itu adalah ancaman terhadap wilayah regional. Iran pun memandang negara-negara teluk bisa mempertahankan diri tanpa AS.

"Kami telah berkali-kali mengumumkan bahwa kehadiran pasukan asing dapat menjadi ancaman bagi keamanan di kawasan regional," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast seperti dilansir media Iran dan dikutip 7DAYS rabu, (18/7/2012).

"Tentu saja negara-negara regional dapat saling membantu satu sama lain dalam menciptakan keamanan melalui cara terbaik yang mungkin dilakukan. Jika kita dapat saling bergandengan tangan dengan kemampuan pertahanan yang kita miliki, maka kita tidak memerlukan kehadiran pasukan asing. Dimanapun Anda melihat pasukan asing maka yang Anda saksikan sebenarnya ada ketidakamanan," tambah Mehmanparast.

Angkatan Laut (AL) AS sendiri beralasan, penembakan tersebut terpaksa dilakukan setelah sebuah kapal kecil mengabaikan peringatan USNS Rappahannock. Menurut AL AS kapal kecil itu bahkan terus bergerak berusaha mendekati USNS Rappahannock.

"USNS Rappahannock menembakkan senjata ke sebuah kapal kecil. Kapal itu dianggap mengabaikan peringatan AL AS yang memintanya untuk segera menjauh. Namun, bukannya menjauh mereka justru bergerak cepat mendekati kapal AS yang tengah berada di kawasan perairan Dubai, Uni Emirat Arab," ujar Juru bicara AL AS.

Namun, para nelayan yang dikonfirmasi terkait kabar ini membantah laporan yang menyebutkan bahwa mereka terlebih dahulu telah diberikan peringatan.

Negeri Paman Sam sendiri diketahui telah menumpuk armada perangnya di kawasan Teluk Persia. Langkah ini diambil untuk memberikan tekanan kepada Teheran terkait dengan kebuntuan dalam persoalan krisis nuklir.

Namun, spekulasi lain yang berkembang menyebutkan, menumpuknya armada perang AS di Teluk Persia merupakan kesiagaan AS terkait munculnya isu penutupan Selat Hormuz. Isu blokade Selat Hormuz sendiri kembali menyeruak menyusul embargo minyak terhadap Iran yang mulai berlaku sejak 1 Juli lalu.

Sanksi baru dijatuhkan atas Iran setelah dialog nuklir ketiga yang berlangsung di Moskow, Rusia, dikabarkan gagal mencapai kesepakatan antar kedua pihak (Iran dan Barat). Barat bersikeras Iran harus mengurangi pengayaan nuklirnya hingga mencapai 20 persen. Sementara itu, menurut Iran pengayaan nuklir adalah hak Iran yang tidak dinegosiasikan.
 
 
Sumber: Okzone.com
China dilaporkan telah mengembangkan pesawat tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle - UAV) yang mampu mengganggu navigasi kapal induk AS yang beroperasi di Selat Taiwan dan Laut China Selatan, menurut sebuah laporan asing. China Briefing, sebuah situs berita yang disponsori oleh Washington yang berbasis di Jamestown Foundation, mengatakan investasi berkelanjutan China dalam penelitian UAV menjadikan negara itu sebagai negara pembuat UAV kedua setelah Amerika Serikat, dan perkembangan UAV yang cepat akan memungkinkan Beijing untuk mengganggu situasi di selat Taiwan dan Laut Cina Selatan. UAV selama ini telah memegang peranan penting bagi angkatan laut Cina untuk melakukan "operasi anti intervensi dan isolasi daerah," dan kendaraan UAV tersebut akan digunakan terutama pada kapal-kapal induk, katanya.

Sumber: http://altileri.blogspot.com/2012/07/pesawat-tak-berawak-uav-china-lumpuhkan-kapal-induk-amerika.html
Saya harapkan toleransi Anda untuk mencantumkan sumber. Terimakasih v
China dilaporkan telah mengembangkan pesawat tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle - UAV) yang mampu mengganggu navigasi kapal induk AS yang beroperasi di Selat Taiwan dan Laut China Selatan, menurut sebuah laporan asing. China Briefing, sebuah situs berita yang disponsori oleh Washington yang berbasis di Jamestown Foundation, mengatakan investasi berkelanjutan China dalam penelitian UAV menjadikan negara itu sebagai negara pembuat UAV kedua setelah Amerika Serikat, dan perkembangan UAV yang cepat akan memungkinkan Beijing untuk mengganggu situasi di selat Taiwan dan Laut Cina Selatan. UAV selama ini telah memegang peranan penting bagi angkatan laut Cina untuk melakukan "operasi anti intervensi dan isolasi daerah," dan kendaraan UAV tersebut akan digunakan terutama pada kapal-kapal induk, katanya

Sumber: http://altileri.blogspot.com/2012/07/pesawat-tak-berawak-uav-china-lumpuhkan-kapal-induk-amerika.html
Saya harapkan toleransi Anda untuk mencantumkan sumber. Terimakasih
China dilaporkan telah mengembangkan pesawat tak berawak (Unmanned Aerial Vehicle - UAV) yang mampu mengganggu navigasi kapal induk AS yang beroperasi di Selat Taiwan dan Laut China Selatan, menurut sebuah laporan asing. China Briefing, sebuah situs berita yang disponsori oleh Washington yang berbasis di Jamestown Foundation, mengatakan investasi berkelanjutan China dalam penelitian UAV menjadikan negara itu sebagai negara pembuat UAV kedua setelah Amerika Serikat, dan perkembangan UAV yang cepat akan memungkinkan Beijing untuk mengganggu situasi di selat Taiwan dan Laut Cina Selatan. UAV selama ini telah memegang peranan penting bagi angkatan laut Cina untuk melakukan "operasi anti intervensi dan isolasi daerah," dan kendaraan UAV tersebut akan digunakan terutama pada kapal-kapal induk, katanya

Sumber: http://altileri.blogspot.com/2012/07/pesawat-tak-berawak-uav-china-lumpuhkan-kapal-induk-amerika.html
Saya harapkan toleransi Anda untuk mencantumkan sumber. Terimakasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMEN POSITIF "OK"