Laman

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Minggu, 30 September 2012

Brasil Tunda Lagi Pembelian Pesawat Tempur

 Rafale buatan Dassault Aviation dari Perancis

RIO DE JANEIRO, KOMPAS.com -- Pemerintah Brasil kembali menunda keputusan pembelian pesawat tempur baru untuk memperkuat armada angkatan udara negara itu sampai tahun depan. Sebelumnya, Brasil diharapkan mengambil keputusan bulan Oktober ini.

Menurut seorang sumber di pemerintahan Brasil, pembelian 36 jet tempur baru itu akan dimasukkan dalam anggaran tahun 2013. "Anggaran pemerintah tidak memasukkan pembelanjaan jet-jet tempur itu, keputusannya nanti tahun 2013," tutur dia, Minggu (30/9/2012).

Pejabat itu juga mengatakan, hingga saat ini belum ada pesawat yang menjadi favorit pemerintah Brasil. Tender pengadaan jet tempur senilai lebih dari 5 miliar dollar AS itu diikuti oleh tiga pesawat, yakni F/A-18 E/F Super Hornet buatan Boeing dari AS, Rafale buatan Dassault Aviation dari Perancis, dan Gripen NG buatan pabrikan Saab asal Swedia.

Menurut sumber tersebut, pemerintah Brasil menunggu hasil pemilihan presiden AS, November mendatang, sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Presiden Brasil Dilma Rousseff juga sedang mempertimbangkan berkunjung ke Perancis, Desember nanti.

Saat pertama kali menjabat, Januari 2011, Rousseff sudah menunda pembelian pesawat tempur tersebut, dan keputusan disebut-sebut akan diambil tahun ini, sekitar bulan Oktober.

Pada awalnya, pihak Brasil telah memilih Rafale sebagai favorit. Namun, belakangan, harga pesawat itu dianggap terlalu mahal dan Brasilia menuntut harga yang lebih rendah. Sebaliknya, Perancis telah semaksimal mungkin memberi penawaran bagus dengan menjanjikan alih teknologi penuh pesawat tempur generasi 4,5 itu kepada Brasil. Brasil sendiri dengan Embraer-nya terus mengembangkan industri dirgantara dalam negerinya.

Harga Super Hornet dari AS jauh lebih murah dari Rafale, namun Brasil khawatir dengan kebiasaan Washington menerapkan pembatasan teknologi. Pada 2006, AS memblokade penjualan 24 pesawat tempur ringan Super Tucano buatan Embraer ke Venezuela, karena pesawat-pesawat itu mengandung teknologi buatan AS.

Brasil, yang saat ini menjadi kekuatan dominan di Amerika Latin dan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar keenam di dunia, menjadikan alih teknologi sebagai syarat utama seluruh perjanjian pertahanannya. Negara itu bertekad mengembangkan sendiri industri pertahanannya dan ingin merakit pesawat-pesawat dengan teknologi asing yang suatu saat bisa diekspor.


Sumber: Kompas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMEN POSITIF "OK"