Laman

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Kamis, 12 Juli 2012

Iran Tiru "Kornet" Milik Rusia

Ilustrasi: Military Photo
Ilustrasi: Military Photo
TEHERAN - Analis pertahanan di Inggris dan Rusia mengatakan, Iran telah memproduksi rudal anti-tank terbaru yang meniru rudal Kornet milik Rusia. Rudal jenis ini kabarnya sempat digunakan oleh Hizbullah dalam perang melawan Israel pada 2006 lalu.

Kelompok Hizbullah pada 2006 lalu mengklaim dengan menggunakan rudal Kornet buatan Rusia, pihaknya berhasil menghancurkan dua tank jenis Merkava-4 milik Israel. Para pejabat Israel menuding, Hizbullah mendapat pasokan rudal Kornet itu dari Suriah yang memang memiliki kedekatan dengan Rusia.

"Iran kemungkinan telah mencontoh rudal milik Rusia setelah sebelumnya mendapat rudal serupa dari sumber non-negara seperti Hizbullah misalnya," ujar Direktur Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Kementerian Pertahanan Rusia Igor Korotchenko, seperti dilansir Trend, Selasa, (10/7/2012).

"Kemungkinan besar beberapa pihak ketiga telah mengekspor rudal itu ke Iran. Bisa jadi mereka adalah Suriah, Hamas ataupun Hizbullah," ujar Analis Pertahanan dari IHS Jane, Neil Gibson.

Sebelumnya pada 7 Juli lalu Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengumumkan peresmian produksi rudal anti-tank Dehlaviyeh yang dirancang dapat mencapai target di bawah tanah. Sementara rudal Kornet milik Rusia sendiri diketahui memiliki jangkauan sekira 5,5 kilometer (3,3 mil).

"Iran sendiri tidak memiliki lisensi dari pihak Rusia untuk memproduksi rudal Kornet ini," tambah Korotchenko.

Korotchenko menegaskan, seharusnya Suriah berkomitmen untuk tidak melakukan ekspor ke negara lain ketika menjalin kesepakatan terkait pemberian rudal Kornet dengan Rusia.

Rudal yang diproduksi Rusia itu kabarnya juga dijual ke sejumlah negara seperti Algeria, Yunani, India, Yordania, Moroko dan Turki serta beberapa negara lainnya di kawasan Afrika.

"Setelah ilmuwan dan insinyur Iran mendapatkan rudal itu maka mereka harus membongkar ulang semua sistem rudal," tutur Gibson.
Sumber: Okezone.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMEN POSITIF "OK"