Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Sabtu, 07 Juli 2012

Rusia agar lanjutkan ekspor rudal S-300 ke Iran


Moskow (ANTARA News) - Direktur Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia (CAWAT), Igor Korotchenko, mengatakan, Rusia harus melanjutkan pengiriman peluru kendali darat-ke-udara S-300 ke Iran karena S-300 tidak di bawah sanksi-sanksi yang dikenakan PBB.

"Rusia harus membalikkan keputusan membatalkan kontrak untuk memberikan sistem S-300 kepada Iran. Mengingat status geopolitik internasional yang baru, Moskow juga harus meningkatkan ekspor senjata defensif ke Iran," kata Korotchenko, dalam satu wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, Kamis.

Menurut dia, hal ini tidak akan bertentangan dengan dokumen PBB.

Dalam kontrak senilai 800 juta dolar AS yang ditandatangani antara Iran dan Rusia pada 2007, Rusia berjanji memberikan lima sistem rudal permukaan-ke-udara S-300 kepada Iran.

Namun, Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, menghentikan kontrak pada September 2010 sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB, yang melarang pasokan senjata konvensional ke Teheran, termasuk peluru kendali, tank, helikopter tempur, pesawat tempur dan kapal perang.

Kementerian Pertahanan Iran dan Organisasi Industri Kedirgantaraan dilaporkan telah mengajukan mosi ke Pengadilan Arbitrase yang bermarkas di Jenewa terhadap eksportir senjata Rusia, Rosoboronexport, karena gagal memenuhi komitmennya mengenai pengiriman sistem rudal S-300.

Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia adalah perusahaan non-pemerintah yang bergerak di bidang penelitian informasi, penerbitan independen dan didirikan di Moskow, Rusia, pada Februari 2010.

Pusat Analisis saat ini telah merekrut para analis profesional terbaik Rusia dan pekerja yang memiliki ilmu keterampilan praktis dan berpengalaman dalam penelitian di berbagai bidang seperti ekspor senjata dan analisis pasar senjata.


Sumber: ANTARAnews

Jepang Berencana Beli Pulau-pulau Sengketa di LCS



Kepulauan Senkaku (nama Jepang) yang jadi pusat sengketa Jepang, China dan Taiwan.
 Kepulauan Senkaku (nama Jepang) yang jadi pusat sengketa Jepang, China dan Taiwan. (sumber: Time.com)
 
Gubernur Tokyo sebelumnya juga mengaku siap membeli pulau-pulau itu, dengan dana sekitar Rp153,81 miliar dari pengumpulan sumbangan.

Pemerintah Jepang berencana membeli serangkaian pulau tak dihuni yang berada di pusat sengketa teritorial antara negara itu dengan China dan Taiwan. Sebagaimana diberitakan surat kabar setempat, Jepang hendak membeli pulau-pulau itu dari pemilik pribadinya.

Menurut pemberitaan Asahi Shimbun, pihak pemerintah Jepang pada Jumat (6/7), menyampaikan rencana tersebut kepada seorang politisi nasionalis yang sebelumnya juga ingin membeli pulau itu karena menilai pemerintah tak serius menjaganya.

Langkah ini diyakini bakal memanaskan lagi situasi antara Tokyo dengan Taipei dan Beijing, karena mereka masih sama-sama bersikukuh mengklaim memiliki pulau-pulau sengketa di kawasan Laut China Selatan (LCS) itu. Orang Jepang menyebutnya (kepulauan itu) Senkaku, sementara orang China mengenalnya dengan nama Diaoyou.

Berdasarkan laporan surat kabar itu, sejumlah pejabat senior Jepang sudah bernegosiasi dengan pemilik pulau-pulau itu, yakni keluarga Kurihara, demi memastikan dapat membeli tiga pulau berdekatan menjelang akhir tahun ini. Tiga pulau dimaksud adalah Uotsurijima, Kitakojima, dan Minamikojima.

Pulau-pulau yang berada di kawasan kaya hasil laut dan diduga punya cadangan mineral tinggi itu, diketahui dibeli oleh keluarga Kurihara berpuluh-puluh tahun lalu dari keturunan orang Jepang yang menguasainya sebelumnya. Pulau-pulau itu sendiri dihuni oleh para nelayan Jepang sebelum berakhirnya Perang Dunia II.

Sejak menjadi pusat sengketa, perairan di sekitarnya pun kemudian kerap diwarnai dengan berbagai insiden maupun keributan, termasuk penangkapan seorang warga China yang menabrakkan kapalnya kepada dua kapal patroli Jepang pada 2010. Kamis lalu, seperti dilaporkan penjaga pantai Jepang, dua warga Jepang terlihat berenang ke Kitakojima dan berdiam di sana selama 90 menit. Sementara awal pekan ini, beberapa kapal Taiwan terlibat keributan dengan kapal patroli Jepang di sekitar pulau-pulau itu.

Pada April lalu, pihak Jepang pertama kali mengungkapkan rencana pembeliannya, tepatnya lewat Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara, yang mengaku telah berunding untuk membeli pulau-pulau itu bagi daerahnya. Ishihara bahkan dilaporkan telah mengumpulkan lebih dari 1,3 miliar yen atau US16,3 juta (sekitar Rp153,81 miliar) dari sumbangan seantero negeri untuk rencananya itu.
 
 
Sumber: BERITASATU

Rusia ingin Indonesia produksi suku cadang Sukhoi


Moskwa (ANTARA News) - Presiden Direktur Perusahaan Penerbangan Rusia Mikhail Pogosyan menyatakan ingin berkolaborasi dengan industri penerbangan di Indonesia untuk memproduksi suku cadang baik pesawat Sukhoi tempur maupun komersial.

"Kerjasama kedirgantaraan yang mencakup transfer of technology merupakan sesuatu yang sangat dimungkinkan," kata Pogosyan seperti diceritakan Dubes RI di Rusia Djauhari Oratmangun di Moskwa, Sabtu.

Pogosyan adalah Presiden Direktur JSC United Aircraft Corporation, sebuah holding company yang antara lain membawahi perusahaan industri sukhoi tempur dan sukhoi komersial. Pertemuan pertama dengan Djauhari ini dilakukan dalam format makan bersama dengan menu khas Rusia.

Pada dasarnya, pertemuan ini adalah acara saling kenal satu dengan lainnya sambil menggali hal-hal yg dapat dikerjasamakan di masa depan.

Kedua belah pihak hanya sedikit saja menyinggung soal "tragedi sukhoi" dalam perspektif tertentu, yakni bahwa dibalik kejadian tersebut harus mampu dimunculkan hal-hal yang positif di masa datang.

"Ada masanya kita melihat ke depan," kata Dubes Djauhari.

Presdir Sukhoi juga mengatakan pihaknya sangat terbuka untuk mendidik anak-anak terbaik Indonesia untuk studi bidang penerbangan di Rusia.

Hal ini penting karena Rusia memiliki dua universitas terbaik di bidang penerbangan, yakni di kota Moskwa dan Kazan. Sukhoi bisa memberikan beasiswa.

Pogosyan juga menyatakan ingin memberikan kuliah kedirgantaraan di universitas di Indonesia dalam sebuah kunjungannya di Indonesia kelak


Sumber: ANTARAnews

Rabu, 04 Juli 2012

Iran Akan Menduplikat Pesawat Sentinel AS

Seorang komandan senior dari Korps Pengawal Revolusi Islam (Pasdaran) mengatakan Iran telah memperoleh informasi yang cukup dari pesawat tanpa awak AS yang berhasil ditangkap tahun lalu untuk menduplikasinya.

"Pesawat tanpa awak RQ-170 Amerika tidak diragukan lagi akan diduplikasi," kata Panglima Divisi Aerospace Pasdaran Brigjen Amir Ali Hajizadeh, Selasa.

Seraya menepis klaim media asing tentang ketidakmampuan Iran untuk memecahkan kode informasi pesawat tanpa awak itu, Hajizadeh mengatakan, Republik Islam telah membuktikan kehebatannya dengan mengirimkan kode yang membuat pesawat tanpa awak itu mendarat di wilayah Iran.

"Yang penting adalah bahwa ratusan teknologi telah digunakan dalam setiap pesawat mata-mata ini yang masing-masing sangat penting secara operasional, informasi, dan teknologi dan kami telah mendapatkan informasi yang musuh tidak ingin kami memilikinya," tambahnya.

Menanggapi pertanyaan apakah Iran akan menjual informasi atau teknologi pesawat tersebut ke sejumlah negara seperti Rusia, Hajizadeh menyatakan bahwa keputusan dalam hal ini akan diambil di tingkat yang lebih tinggi dari pemerintah Iran.

Pada 1 Juli, Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi mengatakan negara itu telah memperoleh informasi teknis baru dari pesawat tanpa awak AS atau yang disebut dengan Sentinel.

Dikatakannya, "Proses pengambilan detail dan spesifikasi teknis dari RQ-170 berjalan normal, dan kami telah mencapai prestasi baru dalam hal ini, namun kami tidak berniat untuk mempublikasikannya."

RQ-170 Sentinel ditembak jatuh dengan kerusakan minimal oleh unit perang elektronik Angkatan Darat Iran, Minggu 4 Desember 2011 ketika terbang di atas kota Kashmar, sekitar 140 mil (225km) dari perbatasan Afghanistan.

Setelah berhasil mengamankan pesawat tersebut, Iran mengumumkan akan melakukan reverse engineering pada RQ-170 Sentinel, yang didesain mirip pesawat pembom Angkatan Udara AS B-2 stealth.

RQ-170 adalah pesawat siluman tanpa awak yang dirancang dan dikembangkan oleh perusahaan Lockheed Martin.

Pesawat tersebut merupakan pesawat mata-mata tercanggih Amerika. Jatuhnya Penangkapan pesawat tersebut oleh pasukan Iran dinilai sangat memalukan bagi Washington.


Sumber: Irib