Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Kamis, 16 Agustus 2012

Pesawat Tempur AS Jatuh Saat Berusaha Tembus Kecepatan Hipersonik


Washington Pesawat tempur canggih hipersonik milik angkatan udara Amerika Serikat jatuh dalam tes terbang. Pesawat canggih yang diberi nama X-15A Waverider ini terjatuh saat berusaha menembus kecepatan 4.600 mil per jam, atau setara dengan 7.400 kilometer per jam.

"Sebuah pesawat hipersonik yang diluncurkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Selasa (13/8) berputar di luar kendali dan hancur sebelum bisa mencapai tujuannya untuk menambah kecepatan hingga 4.600 mil per jam," kata pejabat Pentagon seperti dilansir oleh CNN, Rabu (15/8/2012).

Waverider sebenarnya telah menjalani tes terbang dua kali sebelum jatuh di lepas pantai California. Pesawat ini sempat menembus kecepatan suara 6 mach selama 16 detik sebelum terjatuh. Pejabat setempat menyatakan penyebab jatuhnya pesawat diduga berasal dari sirip ekor pesawat.

"Sebuah kesalahan telah diidentifikasi, dari salah satu sirip pesawat. Setelah pesawat dipisahkan dari roket pendorong, kira-kira 15 detik kemudian, pesawat tidak mampu mempertahankan kontrol karena sirip rusak dan lepas," kata pejabat angkatan udara Amerika.

Pihak terkait akan mengevaluasi penyebab terjatuhnya Waverider dengan melakukan sejumlah tes. Harapannya agar tidak terjadi lagi kecelakaan serupa dan pesawat tersebut dapat digunakan oleh angkatan udara Amerika. Pesawat ini sendiri bentuknya menyerupai rudal dan tanpa awak.

"Pejabat program pengembangan Waverider akan memulai proses evaluasi yang ketat untuk menentukan penyebab pasti dari berbagai faktor. Namun, sangat disayangkan masalah dengan subsistem ini menyebabkan penghentian program sebelum kami bisa menyalakan mesin 'Scramjet'. Semua data kami menunjukkan bahwa kami telah menciptakan kondisi yang tepat untuk pengapian mesin dan kami sangat berharap untuk memenuhi tujuan pengujian ini," kata Manajer Program X-51A Waverider, Charlie Brink, untuk Air Force Research Laboratory.

Angkatan udara Amerika Serikat memiliki empat X-15A Waveriders dan telah diuji tiga kali. Para pejabat terkait mengatakan mereka belum tahu kapan Waverider akan diuji lebih jauh.


Sumber: Detiknews

Rabu, 15 Agustus 2012

Indonesia Mulai Bersuara di Industri Militer Dunia


INILAH.COM, Jakarta - Indonesia kini sudah jauh berkembang. Bahkan sudah mulai dilirik sektor industri militer dunia. Bukan sebagai konsumen, melainkan produsen. Benarkah?

Teknologi militer untuk pertahanan dan keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun sudah memproduksi persenjataan militer buatan anak bangsa.

Di penghujung Maret 2012 lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin, Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer buatan Indonesia.

Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnyam D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach.

Perjalanan lahirnya roket militer R-Han 122 ini pun cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 kilometer.

Prototipe roket D-230 ini dibeli Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu roket. Maka pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis massal.

Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Dalam konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket.

"Kami ditunjuk sebagai ketua konsorsium. Kami tinggal meminta kepada perusahaan-perusahaan itu untuk membuat ini itu untuk komponen roket. Kemudian dirancang di PT DI," jelas Sonny.

Disebutkannya di dalam konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah dimodifikasi dengan laras 16/ warhead dan mobil launcher (hulu ledak).

Kemudian PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuh roket.

ITB menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.

Sistem isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122 itu. Dijelaskan Sonny, pada 2003 para periset menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk justru cepat jebol. "Tahun itu tahun jebol karena roket-roket yang diuji rusak atau jebol."

Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas.

Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan, yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.
"Karena termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny. R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 km.

Sebelumnya PT Pindad telah memproduksi panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset APS-1 sampai ke APS-3. Pada APS-3 ini punya kemampuan bermanuver di darat, perairan dangkal dan danau.

Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya pada varian 6x6. Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007 dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya, Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini.
Selain varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang mogok) dan varian mortir.Sumber

Saat ini Kementerian Pertahanan telah memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga. Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA dari PT Pindad.
Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon.
 Sumber: Inilah.com

F-16 Hibah dari AS akan Lipat Gandakan Kekuatan Pesawat Tempur RI


Jakarta Indonesia akan mendapatkan tambahan pesawat tempur F-16 dari Amerika nanti. Dengan begitu jumlah pesawat temput miilik Indonesia akan bertambah tiga kali lipat dari jumlah sekarang.

"Akan ada tambahan hibah F-16 dari AS, nanti akan di-upgrading dan sekarang masih dalam proses. Yang jelas kalau sudah jadi kekuatannya nanti bisa kekuatannya bisa tiga kali lipat dari yang sekarang," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di Gedung Kemenhan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (15/8/2012).

Purnomo tidak bisa menjelaskan berapa total F-16 yang akan diterima dari pemerintah Amerika Serikat. "Sesuai kode etik militer, kita tidak boleh menyebut berapa jumlah pesawat tempur kita," sambung Purnomo.

Diharapkannya, pesawat tersebut dapat diselsaikan proses hibahnya pada tahun 2014 nanti. Ia berharap dengan adanya modernisasi alutsista, Indonesia dapat menjadi macan Asia.

"Karena kita akan terus lakukan modernisasi alutsista, dan kita berharap Indonesia bisa menjadi macan Asia," tutup Purnomo.


Sumber: Detiknews

TNI AL Siap Beli Heli dari Amerika


TEMPO.CO, Jakarta: TNI Angkatan Laut mengaku berencana membeli 11 helikopter anti kapal selam dari Amerika Serikat. Helikopter Super Seasprite SH2G itu diproduksi Kaman Aerospace, Amerika. "Kami sudah dua kali kunjungan penjajakan ke sana," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati saat dihubungi Rabu, 15 Agustus 2012.

Hasil kunjungan Kepala Staf TNI Angkatan Laut dan timnya ini sudah dipaparkan kepada Kementerian Pertahanan. "Kami bahkan sudah sempat test flight," ujar Untung.Meski begitu, Untung tak bisa memastikan apakah rencana pembelian itu pasti dilakukan atau tidak. "Keputusan pembelian ada di tangan Kementerian Pertahanan,” katanya.
 
Dari sejumlah uji coba, TNI AL menilai helikopter ini cukup bagus. "Ini heli anti kapal selam versi AL yang sudah dilengkapi torpedo," ujar dia.

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Marsetio membenarkan rencana ini. Menurutnya,  11 unit helikopter anti kapal selam ini sesuai kebutuhan TNI AL. "Bermanfaat untuk menggantikan helikopter anti kapal selam yang kita miliki selama ini,” katanya. 


Sumber: Tempo