Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Rabu, 29 Agustus 2012

AS EKSPANSI PERTAHANAN RUDAL KE ASIA


AS berencana melakukan ekspansi besar-besaran untuk menempatkan pertahanan rudal mereka di kawasan Asia. Menurut pejabat Amerika, langkah ini dirancang untuk mengantisipasi ancaman dari Korea Utara dan satu yang tidak bisa dilupakan adalah untuk mengatasi kekuatan militer China.

Pembangunan pertahanan rudal ini merupakan bagian dari array defensif yang dapat menutupi "celah-celah" besar di Asia, dengan radar baru di selatan Jepang dan kemungkinan lain akan ditempatkan kapal pertahanan rudal di Asia Tenggara.

Ini merupakan bagian dari strategi pertahanan baru  pemerintahan Obama untuk memindahkan sumber daya mereka ke kawasan Asia Pasifik yang penting bagi ekonomi AS setelah satu dekade bergelut dengan perang Irak dan Afghanistan.

Ide ekspansi pertahanan rudal ini muncul pada saat AS dan sekutunya merasa khawatir dengan ancaman Korea Utara. Mereka juga semakin khawatir dengan sikap agresif China di perairan yang disengketakan seperti Laut China Selatan, dimana pihak-pihak yang bersengketa berlomba-lomba untuk menguasai hak minyak dan mineral di wilayah perairan tersebut.

Pertahanan rudal AS di Asia

Perencana pertahanan AS sangat khawatir dengan perkembangan rudal balistik anti kapal induk Chinayang bisa mengancam armada Angkatan Laut AS terutama kapal induk, jadi bagi AS sangat penting untuk memproyeksikan kekuasaan mereka di Asia.

"Fokus kami adalah retorika Korea Utara," kata Steven Hildreth, seorang ahli pertahanan rudal di Congressional Research Service, sebuah cabang penasihat kongres. "kenyataannya adalah bahwa kami juga melihat untuk jangka panjang, yang tidak lain adalah China."

Lokasi penempatan radar X-Band (radar peringatan dini) akan ditempatkan di sebuah pulau di selatan Jepang, kata pejabat pertahanan AS. Pentagon membahas hal ini dengan Jepang karena Jepang merupakan sekutu terdekat Amerika di kawasan ini. Radar akan dipasang beberapa bulan sejak perjanjian dengan Jepang, para pejabat Amerika mengatakan, dan akan melengkapi radar X-Band AS lainnya yang diletakkan di utara Jepang pada tahun 2006 lalu.

Jurubicara Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan bahwa pemerintah Jepang tidak akan memberikan komentar mengenai hal ini.

Para pejabat militer AS untuk Komando Pasifik dan Badan Pertahanan Rudal (MDA) juga telah mengevaluasi situs-situs di Asia Tenggara untuk menempatkan radar X-Band ketiga yang nantinya akan memungkinkan bagi AS dan sekutu regionalnya untuk lebih akurat melacak rudal balistik yang diluncurkan dari Korea Utara, juga China.

Beberapa pejabat pertahanan AS telah berfokus pada Filipina sebagai tempat potensial untuk X-Band ketiga, yang radar ini notabene diproduksi oleh Raytheon Co. Tapi pejabat Pentagon mengatakan lokasinya belum ditentukan dan diskusi ini masih dalam tahap awal.

Kehadiran kekuatan AS ini mungkin akan meningkatkan ketegangan dengan China, yang sejak dulu telah mengkritisi pertahanan-pertahanan rudal balistik AS di masa lalu. Beijing mengkawatirkan sistem ini, mirip dengan kebijakan AS untuk menyebarkan pertahanan rudal di Timur Tengah dan Eropa untuk melawan Iran, ini membuat China tidak leluasa. Beijing telah menyatakan keberatannya untuk penyebaran pertama X-Band AS di Jepang pada tahun 2006. Moskow juga telah menyuarakan kekhawatiran yang sama tenatang sistem pertahanan rudal AS di Eropa dan Timur Tengah.

Radar AS di Gurun Negev Israel
Fasilitas radar AS di Gurun Negev, Israel

Tanpa membeberkan rencana spesifik, Sekretaris Pers Pentagon George Little mengatakan: "Korea Utara adalah ancaman langsung yang mendorong kami untuk mengambil keputusan ini."

Pada bulan April, Korea Utara meluncurkan roket multistage yang meledak kurang dari dua menit dalam penerbangan. Uji coba ini juga dilakukan Korea Utara pada bulan Agustus 1998, Juli 2006 dan April 2009.

Pentagon mengirimkan radar X-Band laut, biasanya kapalnya berlabuh di Pearl Harbor, ke Pasifik untuk memantau peluncuran rudal Korea Utara terbaru sebagai tindakan pencegahan.

China dan Korea Utara yang Menjadi Prioritas Pertahanan Rudal AS

Pentagon juga mengkhawatirkan ketidakseimbangan kekuatan di selat Taiwan. China telah mengembangkan rudal balistik canggih dan rudal balistik anti kapal induk yang dapat menargetkan armada angkatan laut AS di kawasan tersebut.

China setidaknya memiliki 1000 sampai 1200 rudal balistik jarak pendek yang khusus ditujukan untuk Taiwan, dan telah mengembangkan rudal jelajah dan rudal balistik jarak jauh, termasuk sebuah rudal China yang dirancang untuk mencapai kapal yang bergerak di jarak 1500km, kata laporan tahunan Pentagon tentang militer China.

Ketiga radar X-Band tersebut (di Asia) tidak hanya akan mencakup Korea Utara, tetapi akan lebih dalam guna memata-matai China.

Salah satu tujuan dari Pentagon adalah untuk meyakini sekutu-sekutu AS yang merasa cemas dengan kekuatan-kekuatan agresif di kawasan ini. Banyak yang menginginkan dukungan AS namun juga tidak ingin memprovokasi China dan mereka (negara-negara sekutu AS) tidak yakin Washington dapat mengatasi modernisasi yang cepat militer Beijing karena kendala fiskal Amerika.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengatakan selama kunjungannya beberapa hari lalu ke kapal perang USS John C. Stennis di Washington, bahwa AS akan fokus dan memproyeksikan kekuatan di Asia Pasifik.

Kehadiran militer AS di tanah Asia, khususnya pangkalan marinir di Okinawa, telah menjadi sumber ketegangan konstan, dan kehadiran yang lebih pasti akan memicu masalah yang lebih besar lagi. Selain situs X-Band baru di selatan Jepang, AS berencana untuk meningkatkan jumlah marinir di Okinawa dalam waktu dekat sebelum akhirnya memindahkan mereka ke Guam. Jumlah pasukan di Okinawa akan segera bertambah, dari yang awalnya sekitar 15.000 personil akan menjadi 19.000 personil, kata pejabat Pentagon.

Analis Mempertanyakan Keefektifan Pertahanan Rudal 

Para analis mengatakan masih belum jelas keefektifan pertahanan rudal AS di wilayah Asia untuk melawan China. Sebuah rilis Pentagon pada tahun 2010 melaporkan bahwa sistem pertahanan rudal balistik tidak bisa mengatasi skala besar serangan rudal Rusia atau China. 

Pejabat senior AS mengatakan penyebarab pertahanan rudal baru ini akan dapat melacak dan memukul mundur setidaknya beberapa serangan dari China, cukup berpotensi untuk mencegah Beijing memulai serangan. 

AS telah menetapkan "dasar-dasar" pertahanan rudal ini di Asia, nantinya kekuatan ini akan tergabung dengan kekuatan-kekuatan sekutu AS di Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan Australia.

Para pejabat AS juga mengatakan bahwa beberapa negara sekutu mereka, sampai sekarang menolak berbagi informasi intelijen secara real-time, ini mempersulit upaya AS. Sengketa teritorial antara Korea Selatan dan Jepang telah berkobar lagi dalam beberapa pekan terakhir, ini menggaris bawahi tantangan untuk menciptakan suatu kesatuan perintah yang padu yang akan digunakan untuk menembak jatuh rudal yang datang.

AS juga menghadapi masalah yang serupa dalam membangun sistem pertahanan rudal terpadu di Teluk Persia.

Setelah radar X-Band mengidentifikasi lintasan rudal, AS kemudian menyebarkan rudal pencegat dari kapal atau darat atau sistem anti rudal.

Penambahan Armada Kapal Pertahanan Rudal AS
 Angkatan Laut AS saat ini tengah menyusun rencana untuk menambah armada kapal perang pertahanan rudal yang saat ini berjumlah 26 menjadi 36 pada tahun 2018. Pejabat Pentagon mengatakan sebanyak 60 persen dari armada tersebut kemungkinan besar akan dikerahkan ke kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, Angkatan Darat AS sedang mempertimbangkan untuk memperoleh Terminal High Altitude Area Defense, atau THAAD, sistem anti rudal, kata seorang pejabat senior pertahanan. Berdasarkan rencana saat ini, AS sedang membangun enam THAADs.



Sumber: Artileri

Iran Awasi Basis Militer AS Selama 24 Jam


TEHERAN - Angkatan Udara Iran yakin akan kemampuannya untuk membalas setiap serangan yang dilancarkan musuh di wilayah Iran. Mereka pun mengawasi basis militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah selama 24 jam.

"Saat ini, kami mengawasi seluruh basis militer AS yang mengelilingi Iran selama 24 jam sehari. Selain itu, setiap pesawat yang masuk ke wilayah udara Iran akan dipantau oleh pasukan Pertahanan Udara Iran," ujar pejabat militer Iran, Jendral Abdollah Reshadi, seperti dikutip FARS, Kamis (30/8/2012).

"Dalam pengawasan itu, kami juga mencatat informasi penerbangan dan data-data yang ada. Kami pun siap melakukan respons yang cepat, bila ada serangan di terorial Iran," tegasnya.

Reshadi menambahkan, Iran memiliki data statistik mengenai pesawat musuh yang ada di basis-basis militer tersebut. Sementara itu, pejabat militer Iran yang lain turut merencanakan strategi perang, guna menghancurkan 35 basis militer AS di Timur Tengah dalam waktu yang singkat.

"Kami sudah memikirkan langkah-langkah untuk membangun basis militer dan menyebar misil, guna menghancurkan basis militer musuh di menit-menit pertama saat serangan berlangsung," ujar Jendral Amir Ali Hajizadeh.

Sejauh ini, Negeri Paman Sam menempatkan 35 basis militer di wilayah yang mengelilingi Negeri Persia. Namun Iran siap untuk mewaspadai segala bentuk serangan yang akan muncul dari setiap wilayah.

Bagi Iran, wilayah Palestina yang diduduki oleh pasukan Israel akan menjadi target serangan Iran. Negeri Persia itu juga memiliki banyak misil yang diarahkan ke wilayah tersebut


Sumber: Okezone

Panglima TNI: Indonesia Butuh 12 Kapal Selam


Jakarta Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan 10 sampai 12 kapal selam untuk mencegah potensi gangguan keamanan laut. Diharapkan target pemenuhan kapal selam dapat rampung sebelum tahun 2024.

"Diharapkan sebelum 2024 target itu dapat terpenuhi," kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dalam jumpa pers di Gedung Kemenhan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (29/8/2012).

Alasan Indonesia membutuhkan kapal selam, lanjut Agus, karena Indonesia berkewajiban menjaga keamanan dan perdamaian di wilayah maritim. Salah satunya, Indonesia harus berperan aktif dalam menjaga keamanan di Laut Cina Selatan.

"Konflik laut Cina Selatan memang bukan masalah kita. Tapi, kalau ada sesuatu di sana maka akan berdampak ke kita. Untuk itulah kita perlukan," jelas Agus.

"Selain itu, kapal selam juga diperlukan untuk menjaga daerah perbatasan laut Indonesia," sambungnya.

Panglima menambahkan, saat ini Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam dan akan hadir 3 kapal selam tambahan dari Korea Selatan. Kapal selam asal negeri ginseng tersebut dilakukan dengan joint production (produksi gabungan).

"Kapal selam itu teknologi yang muktahir, dengan adanya joint production ini diharapkan akan ada transfer teknologi supaya Indonesia dapat menguasai ilmu pembuatan kapal selam," tutup Agus.

Sumber: Detiknews

Senjata Buatan Indonesia Laris di Irak


VIVAnews - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan senang kunjungan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Syamsuddin ke Irak dan Uganda beberapa waktu lalu membuahkan hasil positif. Kedua negara itu memesan persenjataan buatan Indonesia.

"Saya senang sekali Wamenhan dari Irak dan menjadi tenaga marketing yang baik untuk PT DI, Pindad, dan Dahana," kata Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.

Dahlan mengatakan pemesanan senjata dan pesawat dari Irak dan Uganda membuktikan kualitas produksi senjata Indonesia. Semua pesanan, akan diterima oleh tiga perusahaan BUMN tersebut.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan kunjungan ke Irak, Uganda, dan Kongo yang didampingi oleh Dirut Pindad, Adik  Avianto. Di Irak, delegasi Indonesia membawa persenjataan buatan Indonesia seperti kendaraan ringan lapis baja, Anoa, serta senapan SS-2.

Delegasi militer Irak akan datang pada 5 Oktober 2012 mendatang untuk mengunjungi pabrik senjata Indonesia.


Sumber: Vivanews