Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Rabu, 11 Juli 2012

Indonesia Coba Konkretkan Tata Perilaku Wilayah Laut China Selatan


Ilustrasi Laut China Selatan
Ilustrasi Laut China Selatan (sumber: indonesiaindonesia.com)
"COC bisa mencegah agar konflik tidak memanas.”

Indonesia mengusulkan beberapa elemen baru untuk mencegah konflik klaim wilayah yang tumpang tindih di Laut China Selatan semakin berkobar dalam pembahasan tata perilaku di wilayah (COC) yang disengketakan oleh empat negara anggota ASEAN dan China tersebut, selain dari hal-hal yang sudah disepakati sebelumnya dalam tingkat pejabat senior ASEAN.

 
“Konsep yang ditawarkan Indonesia sangat konkret, misalnya bagaimana menjaga jarak antar kapal dan mencegah manuver yang provokatif bila terjadi pertemuan kapal-kapal dari negara yang bersengketa. Ini untuk mencegah insiden membesar dan tidak sekedar prinsip umum untuk menahan diri untuk tidak akan melakukan kekerasan,” ujar Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di kantor Kementerian Luar Negeri hari Selasa (10/7).

Konsep itu ditawarkan oleh Indonesia dalam pertemuan ASEAN tingkat menteri (AMM) ke-45 di Phonm Penh, Kamboja pada hari Senin (9/7) yang dihadiri oleh para menteri luar negeri dari negara-negara anggota ASEAN, dimana mereka, kata Marty, membahas kode etik perilaku di Laut China Selatan dengan “jujur dan apa adanya" walau belum berhasil mencapai suatu konsensus.

“Dalam pandangan Indonesia, COC bukanlah tongkat ajaib yang bisa menyelesaikan tumpang tindih klaim jurisdiksi di Laut China Selatan. Itu harus diselesaikan melalui perundingan antara pihak-pihak yang terkait, tapi COC bisa mencegah agar konflik tidak memanas,” ujar Marty.

Melalui usulan baru itu, Marty mengatakan bahwa Indonesia mencoba mempertajam COC ini agar lebih berorientasi pada aksi, instruktif dan tidak semata-mata prinsip dasar. Usulan ini juga untuk mencegah kemunduran dalam proses negosiasi yang bisa terjadi ketika ada situasi yang memanas di laut seperti yang terjadi belum lama ini antara China dan Filipina ketika kapal-kapal dari kedua negara bersinggungan di wilayah Scarborough Shoal yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Luzon, Filipina.


Di sisi lain, tambah Marty, situasi yang memanas di laut juga bisa menjadi pengingat mengenai pentingnya pembahasan COC dalam waktu yang tepat karena suka atau tidak, ASEAN dan China berada dalam posisi yang sama.


“Ini jangan menjadi forum dimana kita mempunyai pandangan yang berbeda. Bila dikelola dengan baik, hasilnya bisa positif kalau tida bisa menjadi bola liar,” kata Marty.


Sumber: BERITAsatu

Pentagon: Keakuratan dan Destruksi Rudal Iran Meningkat




Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa Iran telah meningkatkan daya destruksi serta keakuratan rudal-rudal balistiknya, dan ini menjadi ancaman bagi para pendukung serangan ke Iran.
 
Fars News (11/7) mengutip Bloomberg, dalam laporan terbaru Pentagon yang diserahkan kepada Kongres pada tanggal 29 Juni dan ditandatangani oleh Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, disebutkan pula bahwa kemajuan terus berlanjut bersamaan dengan pelaksanaan manuver militer secara rutin rudal balistik Iran. Kemajuan yang sama juga dicapai Iran di sektor produksi kapal tempur dan kapal selam.
 
Laporan tersebut diserahkan pekan lalu kepada empat komite pertahanan di Kongres Amerika Serikat untuk disesuaikan dengan bujet tahun 2010 dalam rangka mengumpulkan analisa rahasia dan tidak rahasia tahunan tentang kemampuan pertahanan Republik Islam Iran. Bagian dari laporan itu yang tidak rahasia menunjukkan gambarat global tentang kemampuan Iran dalam "bergerilya menghadapi keunggulan kekuatan militer Barat."
 
Pada hakikatnya laporan itu merupakan ringkasan dari pembahasan menyangkut perkembangan program nuklir Iran, bantaun kepada Suriah, Lebanon, Hizbullah, Hamas, dan kelompok Syiah Irak.
 
 
Sumber: Irib

Minggu, 08 Juli 2012

Indonesia ikut Latihan Perang Terbesar Dunia


TRIBUNNEWS.COM CANBERRA- Bersama dengan Malaysia, Amerika dan Australia, Indonesia masuk dalam 22 negara yang akan ikut ambil bagian dalam latihan perang terbesar di dunia. Kapal selam yang akan digunakan untuk latihan perang di dekat Hawai

Menurut ABC News Jumat (6/7/2012) lebih dari 40 kapal, enam kapal selam, ratusan pesawat udara dan 25-ribu personel akan melakukan latihan dalam serangan udara di Negara Pacific Rim dekat Hawaii.
Komodor Stuart Mayer dari Australia akan menjadi komandan pasukan maritim semua negara yang ikut dalam latihan itu.

Ia mengatakan, event selama 4 minggu ini memberikan pengalaman unik bagi masing-masing negara peserta.
Mayer menjelaskan, ke-22 negara peserta mempunyai tujuan latihan yang berbeda, dan latihan ini dirancan untuk memenuhi tujuan masing-masing negara.

Ia menambahkan latihan perang ini juga akan melibatkan latihan pengerahan bantuan kemanusian dan bencana, keamanan maritim disamping juga tujuan perang yang lebih rumit seperti perang melawan kapal selam atau pertahanan udara.


Sumber:TRIBUNnews

“Manuver Rudal Nabi Besar 7, Tunjukkan Kemampuan Republik Islam”


Seorang anggota parlemen Iran menilai manuver militer terbaru oleh Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) telah menampilkan kekuatan Republik Islam dalam menghadapi ancaman dan sanksi yang telah bergulir selama 33 tahun terakhir.
 
"Revolusi Islam telah berhasil meningkatkan kekuatannya setiap hari dengan mengandalkan kemampuan lokal," kata anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran (Majlis), Mehdi Davatgari Sabtu (7/7).
 
Dia menambahkan bahwa manuver rudal Pasdaran bersandi Nabi Besar 7, menjamin keamanan Iran berdasarkan kemampuan dan kekuatan nasional.
 
Manuver tersebut telah dipentaskan untuk mempertahankan kesiapan Angkatan Bersenjata Iran menghadapi ancaman musuh dan kemungkinan serangan serta dalam melindungi pemerintahan Islam.
 
Manuver Rudal Nabi Besar 7 sekaligus mengandung pesan perdamaian dan persahabatan Republik Islam dengan negara-negara tetangganya
 
Anggota Majlis ini juga menekankan bahwa jika musuh berniat untuk menyerang Iran, maka mereka harus tahu bahwa respon bangsa dan Angkatan Bersenjata Iran akan cepat dan destruktif.


Sumber: Irib