Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Rabu, 30 Mei 2012

Pemerintah Anggarkan Rp. 3.9 Triliun Bangun Sepanjang Perbatasan

 
BALIKPAPAN: Pemerintah menyediakan anggaran Rp3,9 triliun membangun wilayah perbatasan darat Kalimantan-Malaysia Timur. Panjang garis perbatasan di sana hingga 2.000 kilometer dari barat ke timur.

Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur berhadapan dengan Malaysia di Kalimantan berhadapan dengan dua negara bagian Malaysia, Sabah dan Sarawak. 

Sekretaris Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Sutrisno, di Balikpapan, Selasa, menyatakan, "Anggaran untuk mengembangkan 39 kecamatan sepanjang perbatasan." Artinya, tiap kecamatan akan mendapat banyak sekali dana untuk memajukan wilayahnya.

"Bagian dari tahapan pembangunan hingga 2025. Akan dibangun 187 kecamatan di 38 kabupaten di 12 provinsi. Rencana induk 2011-2014 sudah melibatkan 111 kecamatan," katanya.

Sutrisno menghadiri Rapat Koordinasi Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Timur. Rapat itu dibuka Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.

Anggaran dan perencanaan tersebut berkenaan perubahan cara pandang mengenai daerah perbatasan. Wilayah perbatasan, khususnya perbatasan darat dengan Malaysia di Kalimantan, kini dianggap sebagai beranda atau teras depan dari Republik Indonesia.

Perubahan cara pandang itu juga untuk mengimbangi pesatnya kemajuan pembangunan kota-kota negara tetangga tersebut yang letaknya tidak jauh dari kota-kota Indonesia, yang umumnya tertinggal.

Pembangunan infrastruktur juga akan dibarengi pembangunan pada sektor energi, pendidikan dan kesehatan untuk membuka isolasi.

Bukan cuma pada aspek keseharian, karena TNI-AD berambisi menempatkan batalion-batalion kavaleri berat di garis perbatasan. Tank Leopard seberat 75 ton perunit akan dioperasikan di hutan belantara tropis bertanah gambut Kalimantan, dan berpangkalan di Bulungan, Kalimantan Timur. 

Masih didukung skuadron helikopter serbu AH-64 Super Cobra dengan berbagai peluru kendali dan roketnya. 


Sumber : Antara

AS Perbarui Kekuatan AL di Asia Pasifik

WASHINGTON: Amerika Serikat akan memperbarui kekuatan angkatan lautnya di seluruh wilayah Asia Pasifik dan tetap "waspada" menghadapi militer China yang sedang bangkit, kata Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, Selasa (29/5/2012).

Pada malam jelang perjalanannya ke Asia yang akan mencakup perhentian di Singapura, Vietnam, dan India, Panetta menyampaikan dalam sebuah pidato bahwa masa depan AS tergantung keamanan di seluruh Pasifik Barat dan Samudra Hindia. "Amerika sebuah negara maritim dan kita kembali ke akar maritim kita," kata Panetta kepada para lulusan Akademi Angkatan Laut AS di Annapolis, Maryland.

"Salah satu proyek utama yang generasi anda harus hadapi adalah mempertahankan dan meningkatkan kekuatan Amerika di seluruh kawasan maritim yang besar di Asia Pasifik," katanya.

Presiden Barack Obama telah mengumumkan pergeseran strategis di Asia setelah mengakhiri kehadiran militer AS di Irak dan mengawasi penarikan pasukan di Afganistan. Pengumuman pergeseran itu terkait dengan kekhawatiran AS atas kebangkitan militer China dan sikap yang lebih tegas soal Laut China Selatan.

Dalam pidato itu, Panetta mendorong para perwira angkatan laut yang baru untuk menjalin hubungan keamanan yang lebih kuat dengan China meski saat bersamaan ia bersumpah bahwa AS tidak akan menurunkan penjagaan keamanannya. "Kami membutuhkan anda guna memperkuat hubungan pertahanan dengan China. Militer China sedang tumbuh dan semakin modern. Kita harus waspada. Kita harus kuat. Kita harus siap menghadapi tantangan apa pun," kata Panetta.

"Namun, kunci untuk wilayah itu adalah mengembangkan sebuah era baru kerja sama pertahanan antara negara,  di mana militer kita berbagi beban keamanan dalam rangka memajukan perdamaian di kawasan Asia Pasifik dan seluruh dunia," katanya.

Dia meminta para lulusan untuk memperkuat aliansi yang sudah lama terjalin dengan Jepang, Korea Selatan, Australia dan Filipina, sementara terus membangun "kemitraan yang kuat" dengan negara-negara, seperti Malaysia, Indonesia, Vietnam, Singapura, dan India. 


Sumber : Kompas

Selasa, 29 Mei 2012

FSYAH Rusia Beli Lisensi Tank Buatan Italia

Seorang juru bicara Oto Melara mengatakan bahwa pihaknya memang dapat menjual lisensi ke Rusia untuk produksi tank Centauro. Dua tank Centauro telah dikirimkan ke Rusia. Tank-tank tiba di pelabuhan Novorossiisk Rusia dan saat ini tengah menjalani uji coba di wilayah Moskow. Dmitry Rogozin sebelumnya menyatakan bahwa Rusia berencana untuk meluncurkan serial tank terbaru 'ARMATA' pada 2015 nanti. Pada akhir April lalu, Rogozin menyatakan bahwa Rusia akan memulainya dengan mendapatkan teknologi dari negara asing ketimbang membeli hardware militer. -Maksudnya agar Rusia dapat mempelajari teknologi asing tersebut.


RUSIA UJI COBA TANK BERODA CENTAURO ITALIA


Rusia tengah menguji tank beroda 'wheeled tank' B1 Centauro 8x8 Italia dan tengah mempertimbangkan untuk membuatnya di bawah lisensi Italia. Italia telah mengirimkan dua tank Centauro kepada Rusia dengan desain asli, meriam 105 mm dan satu tank lagi dipasang meriam 125 mm Rusia. Dua varian tambahan tank Centauro akan segera tiba di Moskow dalam beberapa minggu kedepan dengan meriam 120 mm standar NATO dan senapan otomatis 30 mm. Menurut perwakilan Oto-Melara (pabrikan pertahanan Italia/produsen Centauro), tank akan di evaluasi secara teknis, uji otomotif dan uji tembak sampai akhir 2012. 

Perusahaan Italia memang tertarik dalam "joint venture" dengan pembuat kendaraan militer Rusia untuk memproduksi kendaraan lapis baja beroda. Kantor berita Rusia Novosti mengatakan bahwa pabrikan truk yang bernama Kamaz di Naberezhny Chelny bisa ikut terlibat dalam kesepakatan itu, informasi ini diperoleh Novosti dari sumber di Rosoboronexport (Badan ekspor-impor senjata Rusia). 

Di bawah kontrak yang ditandatangani pada bulan Desember tahun lalu di Moskow, 60 Lynx-LMV (Kendaraan lapis baja ringan serbaguna) telah diproduksi oleh Oboronservis bersama perusahaan (OJSC) di Voronezh, Rusia tengah. Lima puluh tujuh kendaraan tersebut akan melayani militer Rusia pada tahun ini. 


Centauro dengan meriam 120 mm Tank beroda Centauro ini diproduksi oleh CIO JOINT VENTURE yang didirikan oleh Iveco Fiat dan Oto Melara. Iveco Fiat memiliki otoritas untuk desain sasis dan sistem otomotif, dan Oto Melara bertanggung jawab untuk desain sistem senjata dan integrasi. Italia sudah memiliki 400 Centauro yang sudah berada dalam layanan Angkatan Bersenjatanya. Angkatan Bersenjata Italia juga telah menerjunkan 249 VBM Freccia -kendaraan tempur infanteri- yang dilengkapi dengan senapan mesin 30 mm dan rudal anti tank. Mungkin varian senjata 30 mm yang sering disebutkan dalam pengujian-pengujian tempur di Rusia tersebut adalah 30 mm yang dipasang pada Freccia ini. 

Rusia memang memiliki pengalaman yang bagus untuk membuat tank beroda, seperti kita tahu BTR-60 8x8, dan yang terbaru adalah BTR-90, yang dirancang pada pertengahan tahun 1990 sebagai kendaraan lapis baja angkut personel. BTR-70/80 adalah salah satu APC roda yang paling banyak dipakai di Angkatan Bersenjata Rusia dan dunia, dengan lebih dari 5.000 BTR untuk 30 Angkatan Bersenjata di seluruh dunia. BTR-90 memang menawarkan rasio daya/berat yang lebih baik dari Centauro tapi kurang bisa berdaptasi dengan 'turret' (kubah-menara) yang berat, hal ini memang telah menjadi keahlian Italia sejak puluhan tahun lalu. 

Integrasi yang cepat dari meriam 125 mm Rusia telah menambah kemampuan tank Centauro ini dan ini bisa membuka keran ekspor industri pertahanan Italia. Kendaraan lapis baja Freccia dengan senjata 30mm Banyak pejabat di kalangan industri militer Rusia merasa keberatan atas keterbukaan Rusia untuk memakai produk barat, hal ini tercermin dalam pembelian kapal Perancis, kendaraan lapis baja Italia dan pesawat tak berawak (drone) Israel. Yury Borisov, wakil ketua komisi industri milter, dikutio dari Novosti mengatakan bahwa Rusia hanya akan satu kali membeli persenjataan asing, setelah itu Rusia akan mempelajari dan membuatnya sendiri. Namun, rasanya tidak mungkin produsen barat akan setuju dengan sikap Rusia tersebut. -Belajar dari diri sendiri, rusia sendiri pun "marah besar" ketika Sukhoi Rusia di kloning oleh China.


Sumber: artileri

PAL Indonesia Siapkan 150 Teknisi Ahli Untuk Belajar Di Korsel & Belanda

Pembuatan Kapal PKR dari Belanda dan Kapal Selam dari Korea ditargetkan selesai 2016, setelah itu PT PAL akan membuat unit lainnya (photo : Schelde)

SURABAYA: PT PAL Indonesia (Persero) menyiapkan 150 teknisi ahli perkapalan untuk alih teknologi produksi kapal selam di Korea Selatan dan kapal perusak kawal rudal (PKR) di Belanda, menyusul dibuatnya kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan di dua negara itu.

Proses alih teknologi itu merupakan persiapan untuk membuat sendiri kapal selam pada beberapa tahun mendatang, suatu upaya kemandirian industri pertahanan di dalam negeri.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Muhamad Firmansyah Arifin mengatakan BUMN tersebut selama ini telah banyak memproduksi berbagai jenis kapal perang untuk memenuhi kebutuhan TNI AL seperti kapal patroli cepat, landing platform dock (LPD), kapal cepat rudal (KCR), landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personal (LCVP).

Namun, lanjutnya,  sejauh ini PAL belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam, karena membutuhkan ilmu tinggi serta kesiapan SDM yang memiliki kemampuan dalam menerima alih teknologi kapal perang tersebut.

“Kami akan menyiapkan 300 teknisi untuk diseleksi menjadi 150 orang guna dikirim ke Korea Selatan dalam keperluan alih teknologi pembuatan kapal selam.  Dijadwalkan penyeleksian itu rampung pada 2013,” ujarnya saat mendampingi Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Selasa, 29 Mei 2012.

Kunjungan tersebut dimaksudkan melihat pelaksanaan produksi  sejumlah kapal perang pesanan TNI AL di PAL Indonesia seperti 3 unit KCR, 2 unit kapal tunda 2400 HP dan 4 unit LCU. Turut hadir dalam kunjungan tersebut Wakil Kepala Staf TNI AL Laksdya TNI Marsetio dan Irjen Kementerian Pertahanan Laksdya TNI Sumartono.

Sjafrie mengatakan PAL harus menyiapkan diri menjadi bagian dari industri pertahanan yang mampu memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) berteknologi tinggi, melalui proses alih teknologi dari negara lain.

Menurut dia, Kementerian Pertahanan tengah melakukan pengadaan 2 unit kapal perusak kawal rudal (PKR) yang dibuat di Belanda. Selain itu, 3 unit kapal selam, diantaranya 2 unit dibuat di Korea Selatan.

Dalam kontrak pembuatan kapal perang di dua negara itu disepakati kerja sama alih teknologi kepada kalangan teknisi ahli kapal perang asal Indonesia.

“Pembuatan PKR di Belanda ditargetkan dapat dirampungkan pada 2016 mendatang,” ujarnya.

Dalam waktu sama, diharapkan pembuatan kapal selam di Korea pun dapat rampung, kemudian akan dibuat di dalam negeri. Dana yang disiapkan untuk pengadaan kapal perang berteknologi tinggi itu disebutkan Rp150 triliun.

Muhamad Firmansyah menyatakan kesiapannya menjadi lead integrator [bersama BUMN lain] untuk pembangunan alutsista, dengan menyiapkan fasilitas bengkel terintegrasi.

“Kami memiliki 2 graving dock, 2 floating dock dan shiplift sekaligus memiliki divisi desain yang merancang kapal-kapal perang,” paparnya.(bas)

Sumber : BisnisJatim