Halaman

Powered By Blogger

SELAMAT DATANG DI ZMID

"ZMID" adalah kulasan berita yang berisi tentang Politik dan dunia militer baik dalam maupun luar negeri.

Selasa, 29 Mei 2012

Taiwan Kerahkan Rudal Anti-China

TAIPEI: Taiwan untuk pertama kalinya mengerahkan rudal-rudal jelajah yang mampu menyerang markas-markas militer penting di sepanjang pantai tenggara China dataran. Rudal ini diketahui memiliki jangkauan hingga 500 km.

Seperti diungkapkan oleh seorang pejabat militer setempat kepada Liberty Times dan dilansir oleh AFP, Senin (28/5/2012), rudal buatan asli Taiwan ini diberi nama Hsiungfeng 2E atau Brave Wind. Produksi massal rudal ini telah selesai dan akan segera digunakan.

Pihak Kementerian Pertahanan Taiwan sendiri enggan berkomentar banyak soal hal ini. Namun, ulasan Liberty Times menyebutkan bahwa proyek produksi rudal ini menghabiskan biaya sekitar 30 miliar dolar Taiwan atau sekitar Rp 9,5 triliun.

Produksi massal ini dilakukan demi mengantisipasi militer China yang diyakini memiliki lebih dari 1.600 rudal yang siap diluncurkan, terutama ke wilayah Taiwan.

"Sampai batas tertentu, persenjataan bisa menjadi alat penghalang. Dalam kasus perang di Selat Taiwan, rudal bisa digunakan untuk menyerang bandara dan markas militer lainnya milik militer China, People's Liberation Army," terang editor-in-chief Liberty Times, Kevin Cheng, kepada AFP.

Liberty Times memperkirakan, ada lebih dari 100 rudal Hsiungfeng 2E yang diarahkan ke wilayah China.

Ketegangan di wilayah Selat Taiwan mulai berkurang sejak Ma Ying-jeou terpilih menjadi Presiden Taiwan pada tahun 2008 lalu. Ma yang merupakan pemimpin Kuomintang, dikenal dekat dengan pihak China. Ma kembali terpilih sebagai Presiden Taiwan dan memulai masa jabatan keduanya sejak Januari lalu. Di bawah kepemimpinan Ma, perdagangan dengan China meningkat dan lebih banyak turis China yang diperbolehkan berkunjung ke Taiwan.

Namun demikian, China masih saja menolak untuk mengesampingkan kemungkinan serangan militer ke wilayah Taiwan, demi mengambil alih kembali pulau tersebut.


Sumber : Detik

Minggu, 27 Mei 2012

Uranium Iran Cukup untuk Lima Bom Nuklir

REPUBLIKA.CO.ID, WINA – Sebuah Lembaga Kemanan Amerika menyatakan Iran secara signifikan telah meningkatkan produksi uranium yang telah diperkaya. Dalam lima tahun terakhir, produksi total uranium Iran cukup untuk setidaknya lima senjata nuklir.

Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (ISIS), yang menyoroti program nuklir Iran, membuat analisis berdasarkan data dalam laporan triwulan terbaru pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dikeluarkan pada Jumat (25/5) lalu.

Dalam laporan tersebut, Iran telah menghasilkan kurang lebih 6,2 metrik ton (6,83 ton) uranium yang diperkaya 3,5 persen sejak tahun 2007. Beberapa di antaranya telah diproses lebih lanjut menjadi kadar yang lebih tinggi.

"Iran memiliki uranium heksafluorida yang diperkaya 3,5 persen. Jika diperkaya lagi, cukup untuk membuat lebih dari lima buah senjata nuklir," kata ISIS dalam analisisnya seperti yang dikutip Reuters Sabtu (26/5).

ISIS mengatakan terdapat penambahan uranium lebih dari 750 kilogram berdasarkan laporan IAEA yang diterbitkan pada bulan Februari lalu. Beberapa uranium Iran dengan kadar lebih tinggi, lanjut ISIS, telah dikonversi menjadi bahan bakar reaktor meski belum digunakan untuk senjata nuklir dalam waktu dekat.

Iran mulai memperkaya uranium dengan konsentrasi fisil 20 persen pada 2010 untuk bahan bakar reaktor penelitian medis. Pengayaan uranium tersebut kemudian diperluas dengan meluncurkan sebuah situs pengayaan uranium bawah tanah di Fordow.

Dalam laporannya, IAEA mencatat, Iran telah melakukan pengayaan uranium lebih dari 50 persen di Fordow. Selain itu Iran memiliki mesin-mesin yang digunakan untuk meningkatkan produksi uranium yang diperkaya hingga 20 persen.

Meski telah membuat beberapa kemajuan, ISIS mengatakan Iran tampaknya masih mengalami masalah dalam pengujian produksi skala unit yang lebih besar untuk menggunakan uranium secara lebih cepat.

Aktivitas nuklir Iran diawasi ketat oleh Barat dan Israel. Barat menilai pengayaan uranium yang dilakukan Iran untuk bahan bakar pembangkit listrik, jika disempurnakan ke tingkat yang jauh lebih tinggi, dapat digunakan untuk bahan bom nuklir. Barat mencurigai hal terakhir adalah tujuan akhir Iran meskipun Republik Islam itu menyangkalnya.


Sumber : Republika

Russia tests new missile with previously unachievable performance

Russia tests new missile system with previously unachievable performance. 47176.jpeg
Russia's "asymmetric response" to the US missile defense system, the test flight of which took place on Wednesday from Plesetsk spaceport, was an analogue of the sea-based intercontinental ballistic missile Bulava. Sources from the Russian rocket industry told the Kommesant newspaper that the two missiles were identical in their construction. They weigh nearly 36 tons, and are 12 meters in length. The two rockets also have the same amount of stages.
The new missile needs to be developed further. However, if all goes well, then Russia may have the new state-of-the-art strategic complex of highest, previously unachievable performance.  
Colonel Vadim Koval, an official spokesman for Russia's Strategic Missile Forces, told reporters, without giving any details, that Russia conducted the first test flight of the prototype of the new ICBM. The launch was conducted from a mobile platform, the official said.
However, a source from the rocket industry told Interfax that it became the second launch for the missile. The first flight went unsuccessfully, although an official confirmation to that could not be found. Experts concluded that it goes about the little-known Avangard - a deeply modernized variant of the new Yars missile system.
Also read: Russia works on 100-ton monster ballistic missile
The new, yet still mysterious missile complex, can be a ground-based analogue of the Bulava system. The Moscow Institute of Thermal Technology started testing Bulava after a series of failed launches.
The performance of the missiles hold perfect prospects for the new weapons in the struggle with the US missile defense system, the elements of which are going to be deployed in Europe. NATO officials stated during the recent summit in Chicago (which Russia ignored) that the first stage of the European missile defense system was practically ready. It is worthy of note that in May, Nikolai Makarov, the chief of Russia's General Staff, announced a possibility of pre-emptive blow against European military objects in case of deployment of the European missile defense system.
Sources from the rocket industry of Russia said in connection with the above-mentioned launch that there was new fuel used for the new missile. The fuel reduces the time required for the work of the engines during the boost phase of the flight. This is the phase, when the missile is most vulnerable to air defense systems.
"As a result, the most complicated boost phase of the flight goes so quickly that the enemy does not have time to calculate its trajectory. The enemy will thus be unable to destroy it. In other words, we can say that our opportunities in overcoming missile defense will increase considerably," an official with the rocket industry told the Moskovsky Komsomolets newspaper.
Owing to the new fuel, the missile will be able to carry more warheads - up to ten. Nowadays, this can only be carried by super heavy (weighing more than 200 tons) silo-based liquid-fuel ICBMs RS-20 (SS-18). The missiles were developed in Ukraine. Russia still has them, but their resource is about to reach the limit after many prolongations.
The term - "asymmetric response" to the US missile defense system - was coined by Vladimir Putin during his second term as president in 2007. He referred to the lexicon of the Soviet times at an annual press conference and said that all responses to the deployment of the US missile defense system in Europe would be "asymmetrical, and yet highly effective." 
sumber: Pravda

Tidak Ada Pangkalan Yang Tidak Dapat Terjangkau Rudal Iran

Wakil Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) Brigadir Jenderal Hossein Salami, menekankan kerja keras Syahid Tehrani Moqaddam dan mengatakan, "Sekarang tidak ada pangkalan di kawasan yang tidak dapat dicapai oleh rudal-rudal Iran dan ini semua terilhami dari perspektif syahid Moqaddam."
 
Fars News (26/5) melaporkan, Brigadir Jenderal Hossein Salami, Wakil Panglima Pasdaran dalam acara peringatan syahidnya Tehrani Moqaddam mengatakan, "Ketika syahid Moqaddam menghadapi kegagalan dalam ujicoba rudal, kegagalan tersebut bukan hanya tidak berdampak negatif pada dirinya, melainkan semakin meruncingkan semangat pejuang itu untuk berjuang lebih keras."
 
Menyinggung seluruh upaya yang dilakukan syahid Moqaddam dalam memproduksi rudal-rudal tipe dari darat ke darat, dari darat ke udara, dan rudal balistik, serta konversi rudal-rudal tersebut menjadi rudal dari darat ke laut, Salami menegaskan, "Sekarang tidak ada pangkalan di kawasan yang tidak dapat dicapai oleh rudal-rudal Iran dan ini semua terilhami dari perspektif syahid Moqaddam.

Sumber : Irib